• 22

    Dec

    Jika "Umbul-Umbul Blambangan" Tak Berkumandang

    Sudah menjadi rahasia umum, pada peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-237 kemarin, lagu “Umbul-Umbul Blambangan” tidak berkumadang lantang seperti tahun-tahun sebelumnya. Syair lagi karya Andang Chotib Yusuf dan pernah dipopulerkan Bupati Banyuwangi Syamsul Hadi ini, ternyata membuat alergi Bupati Ratna Ani Lestari. Seorang PNS di Lingkungan Pemkab Banyuwangi pernah bercerita, suatu saat Ratna meminta acara menyanyi dengan materi lagu Umbul-Umbul Blambangan agar tidak dilanjutkan. Bahkan ada upacara Harjaba, tidak lagi dinyanyikan “Umbul-Umbul Blambangan yang berbahasa Using itu, tertapi diganti dengan lagu Mars Banyuwangi berbahasa Indonesia. Keptusan Bupati yang memang bukan orang asli Banyuwangi dan Isteri seorang Bupati di Jebrana Bali, memang perlu diragukan
  • 21

    Dec

    Banyuwangi Sekarang dan Jalan Berlubang

    Saat pulang ke kampung halaman, saya sempat terkejut. Sejumlah kawasan di dalam kota, ternyata banyak jalan berlubang. Kondisi ini sempat saya maklumi, karena saat ini musim hujan, sehingga aspal yang tergerus air itu (mungkin karena banyak campuran) sudah menjadi kelajiman. Namun saat mengetahui jalan mengelupas juga terjadi di jalan-jalan protokol kota, saya baru mulai berpikir kritis. Keterkejutan saya semakin menjadi, saat teman satu angkutan travel menuju Surabaya, ternyata di Kampung halamannya daerah Sumber Sewu, juga rusak parah. Bahkan sopir travel yang melayani rute Banyuwangi-Surabaya dan selaiknya, hafal di mana saja jalan yang rusak. Jalan yang paling parah kerusakannya adalah kawasan lingkar barat, sekitar Penataban kecamatan Giri. Jalan yangt biasa dileweati kendaraan bes
  • 21

    Dec

    Posisi Budaya Using dalam "Pawai Pelangi Budaya" Harjaba 2008

    Setiap puncak peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba), selalu digelar acara pawai “Pelangi Budaya” sebagai puncak dari sejumlah rangkaian acara. Tidak ketinggalan, pada peringatan Harjaba ke-237 yang jatuh pada hari kamis, 18 Desember 2008 kemarin. Pemkab Banyuwangi di bawah kepempinan Bupati Ratna Ani Lestari, pawai “Pelangi Budaya” juga digelar meski kurang maksimal dan di sana-sini terlihat kurang persiapan, atau terkesan longgar dengan memberikan kesempatan kepada peserta dari luar Kabupaten. Bahkan kesenian dari Kabupaten-Kabupaten lain itu, ternyata di Banyuwangi juga sudah ada. Sehingga kesan tumpang tindih, serta amburadulnya “rundown” acara yang berlangsung di tengah guyuran hujan ini tidak bisa terelakan. Pelangi budaya, diawali dengan kolab
  • 15

    Dec

    Harga Premium dan Solar Turun, Elpiji Langka

    Pemerintah benar-benar sedang menarik simpatik rakyat, karena dalam satu bulan terakhir, sudah dua kali menurunkan harga BBM. Meski alasannya cukup logis, berkaitan dengan turunnya harga minyak dunia, namun nuansa politik dalam kebijakan ini juga sulit terhindarkan. Bahwa di sana-sini masih terlihat kedodoran, seharusnya juga menjadi perhatian serius pemerintah. Misalnya kelangkaan gas elpiji, sebelum pemberlakukan konversi minyak tanah secara serempak. Sebetulnya trend penurunan harga minyak dunia, sudah berlangsung cukup lama. Namun pemerintah Indonesia yang sudah terlanjur menaikan harga jual BBM, baru merespon dengan menurunkan harga premium pada awal Desember 2008. Harga Solar masih bertahan, dengan janji akan dilakukan secepatnya, sekaligus mengkaji kemungkinan turunnya lagi harga
  • 15

    Dec

    Batik Banyuwangi Kaya Motif, Sedikit Yang Dipatenkan

    BANYUWANGI-Tak banyak warga yang tahu, bahwa sejatinya Banyuwangi merupakan salah satu daerah asal batik di Nusantara. Banyak motif asli batik khas Bumi Blambangan. Namun hingga sekarang, baru 21 jenis motif batik asli Banyuwangi yang diakui secara nasional. Tren penggunaan motif batik pada pakaian mulai meningkat akhir-akhir. Gairah perkembangan bisnis batik kembali terasa menggeliat di Banyuwangi. Dulunya, baju batik lebih banyak dikenakan pada acara resmi. Misalnya acara resepsi atau kegiatan resmi lainnya. Namun saat ini, batik sudah banyak dipakai untuk tren baju sehari-hari. Mulai seragam sekolah dan baju kerja karyawan perkantoran, motif pelengkap kerudung, baju casual hingga busana muslim untuk acara santai. Meski sudah menjadi pakaian sehari-hari, warga Kota Gandrung banyak yan
  • 9

    Dec

    "Leroban", Sayur Khas Wong Using yang Terlupakan

    Kalau orang Yogyakarta punya Sayur GUDEG, maka orang Banyuwangi (Baca: Using) punya sayur khas bernama LEROBAN. Meski rasanya hampir sama mendekati manis, namun bahan bakunya yang sangat beda. Gudeg hanya berbahan nangka muda, atau Tewel (Kata orang Using Tombol) dengan santan. Namun “Leroban” berbahan aneka sayur, atau disebut dalam Bahasa Using sebagai RAMONAN. Kuahnya menggunakan santan yang telah diambil minyaknya, dengan RAMONAN terdiri dari Kluwih, Lompong (Batang talas), Kacang Panjang, Ontong (Tongkol Pisang), serta penyedap daun “singkil”, kalau Lodeh maupun Gudeg bisanya menggunakan daun salam (Bhs Using godong manting). Bagi orang Banyuwangi yang mempunyai kebon kelapa, sayur Leroban ini tidak asing lagi. Meski tidak dimasak setiap saat, tetapi Lerebon
  • 8

    Dec

    "Melayokaken" dan "Ngeleboni", Akibat Buntu Komunikasi

    Masyarakat Using, mengenal tradisi melamar seorang gadis dengan nama “Melayokaken” dan “Ngeleboni”. Tradisi ini muncul, apabila jalan normal sulit dicapai. Bisa akibat ketidaksetujuan pihak orang tua gadis atau orang tua pihak laki-laki. Namun langkah untuk mencairkan sikap “wangkot” orang tua itu, bisanya ditempuh anak muda Using untuk “Melayokaken” gadis pujaannya atau “Ngeleboni” ke rumah seorang gadis pujaanya. “Melayokaken” atau melarikan gadis pujaan, sebetulnya bukan sarana atau jalan satu-satunya menuju mahligai rumah tangga. Langkah ini ditempuh, apabila orang tua gadis tidak setuju atas rencana pinangan yang dilakukan seorang pemuda. Sang Gadis dan Sang Perjaka, sebetulnya sudah melakukan pacara secara sem
  • 4

    Dec

    Angklung Caruk: Berpacu Hidup Sportif

    “Caruk” alam bahasa Using berarti “temu”. Kata dasar itu bisa diucapkan “Kecaruk” atau “Bertemu”. Nah , Kata “Angklung Caruk” artinya adalah dua kelompok kesenian angklung yang dipertemukan dalam satu panggung, saling beradu kepandaian memainkan alat musik berlaras pelog itu, dengan iringan sejumlah tembang Banyuwangian. Meski tidak ada aturan secara tertulis, kedua kelompok kesenian itu sejak puluhan tahun sudah memahi aturan yang menjadi kesepakatan. Sehingga, mereka tidak ada yang curang, tidak ada yang marah, saat kurang mendapatkan respon atau aplaus dari penonton. Tradisi Angklung Caruk adalah gambaran betapa tingginya apresiasi warga Banyuwangi terhadap musik daerahnya. Tradisi ini ada, jauh sebelum acara BERPACU DALAM M
  • 3

    Dec

    Banyuwangi Kota Seribu Rujak

    Sing koyo ring Banyuwangi, rujak akeh manceme/Durung weruh rasane magih arane, nganeh anehi. Lalio nang han dodol, tapi jojo lali nang rujake ….(Tidak seperti di Banyuwangi, rujak banyak macamnya/Belum tahu rasanya, mendengar namanya sudah aneh// Boleh lupa kepada penjualnya, tapi jangan lupa ke rujaknya) Lagu yang pupuler pertengahan tahun 1970-an itu, berjudul Rujak Singgul. Dari puluhan nama rujak yang berkembang di Banyuwangi, ternyata nama Rujak Soto belum masuk. Rujak soto sendiri, bukan kreasi baru, tetapi modifikasi dari makanan yang sudah ada kemudian di campur. Sementara nama rujak yang berkembang lebih dulu, seperti Rujak Wuni, Rujak Locok, Rujak Lethok, Rujak Kecut, Rujak Pecel, Rujak cemplung dan Rujak Singgul, semua mengarah kepada nama bahan yang digunakan rujak, at
  • 3

    Dec

    WATU DODOL: Pintu Gerbang Masuk Banyuwangi

    lomba-prahu-layar-di-selat-bali.JPG Apabila Anda sering beperpegian ke Bali lewat darat, terutama lewat utara Jatim, yaitu kawasan Situbondo, maka saat memasuki wilayah Banyuwangi Anda akan disambut Gapura Kejut. Ada patung Gandrung (Kesenian khas Banyuwangi) di sebelah kiri. Deburan ombak dengan air laut yang benaing, serta ada onggokan batu besar di tengah jalan. Itulah yang disebut Watu Dodol. Konon menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, nama “Watu Dodol” itu menceritakan asal muasal batu itu. Watu bahasa Jawa, dalam bahasa Indonesia Batu. Dodol, atau dalam masyarakat Using disebut Jenang. Nama jenang itu, biasanya diikuti jenis bahan bakunya. Misalnya, jenang ketan, karena terbuat dari beras ketan. Jenang Selo dan sebagainya. Nah dari sini, cerita asal

Author

Follow Me