• 16

    Sep

    Mengenang "Lebaran Brojolan"

    “Lebaran Brojolan” adalah lebaran yang jatuh lebih cepat dari perkiraan. Misalnya dalam kalender resmi sudah ditetapkan, lebaran akan jatuh pada hari Minggu. Namun pada saat digelar Rukyatul Hilal (melihat Bulan dengan mata telanjang) hari Jumat petang, ternyata hari sudah dilihat bulan. Maka keputusaannya, puasa harus disudahi dan lebaran hari dilaksanakan pada hari Sabtu pagi. Ummat Islam yang sudah menyiapkan Hari Raya Idul fitri pada hari minggu itu, langsung tergopoh-gopoh menyiapkan aneka masakan untuk esuk harinya secara marathon. Mereka tergopoh-gopoh, karena sekaligus juga menyiapkan untyuk Sholat Ied pada pagi harinya. Ibarat orang hamil, “Lebaran” itu lahir sebelum waktunya. Sebelum era informasi sedahsyat sekarang, keputusan-keputusan dari Pemerintah h
  • 28

    Aug

    "Bedug Dowo" dan "Blanggur" Saat Ramadhan

    Saat masih kecil di Banyuwangi, sekitar 1970 hingga 1980-an, adalah saat indah menjalankan ibadah puasa. Hidup pada komunitas yang homogen (100 persen Islam) dan semua fahamnya Nahdlatul Ulama, sungguh berkesan dengan akulturasi tradisi-tradisi lokal. Menjalankan puasa, sejak kelas 3 Sekolah dasar. Ada juga yang “Puasa Bedug” atau setengah hari, namun tidak sedikit yang puasa penuh. Setelah buka bersama di rumah, dilanjutkan tarawih di Masjid atau Langgar. Meski sama-sama NU, tetapi dua tempat ibadah di kampungku memberi pilihan berbeda. Di Masjid Baitul Quddus, dengan 23 rokaat tarawih, sedang di Langgar Kyai Saleh, hanya 11 rakaat. Itu berjalan puluhan tahun, tanpa ada perdebatan apapun. Waktu itu, desa kami serba minim media hiburan dan alat komunikasi. Pada bulan Ramadh
  • 6

    Aug

    Transeksual Dalam Panggung Kesenian Tradisional

    Saat saya posting status di Facebook, tentang Seni Tari Gandrung Marsan mewakili Jawa Timur dalam festival seni tari tingkat Nasional, ada teman yang gelisah atas banyaknya pelatih Tari Banyuwangi yang cenderung didominasi kaum wadam (wandu: Using) atau transeksual. Bahkan dalam Tari Gandrung Marsan yang dikomandani Sobari Sofyan, memang kebanyakan pelakukan juga waria. Mereka seakan ingin menegaskan, bahwa Gandrung yang menjadi icon Banyuwangi itu dulunya diperankan seorang laki-laki (Gandrung Lanang). Namun saat gladi bersih di Kantor Dinas Kebudayaan dan Parisata Jawa Timur, mendapat kritik keras dari pengamat. Salah satunya adalah dominasi gerakan tari yang gemulai. Sang pengamat ini menghendaki, saat perpindahan penari bergaya perempuan ke sosok aslinya sebagai seorang pria, tidak sa
  • 15

    Jan

    "Ada Apa Dengan Wong Using..??"

    Penduduk sisa-sisa rakyat Blambangan yang mendiami wilayah Kabupaten Banyuwangi, sebagian Jember, Bondowoso, Situbondo dan Lumajang disebut masyarakat Using. Dulu sebelum dibakukan, banyak menulis dengan kata “Osing” kadang juga “Oseng”, namun setelah diurai secara fonetis oleh pakar Linguisitik dari Universitas Udayana Bali (Prof Heru Santoso), diperoleh kesepakatan resmi dengan menulis kata “Using” yang berarti “Tidak”. Pertanyaannya, kenapa orang asli Blambangan disebut Using? Penyebutan itu, sebetulnya bukan permintaan orang-orang Blambangan. Ini lebih merupakan ungkapan prustasi dari penjajah Belanda saat itu, karena selalu gagal membunjuk orang-orang sisa Kerajaan Blambangan untuk bekerja sama. Kendati pimpinan mereka sudah dikalahkan,
  • 6

    Jan

    Mewaspadai Aliran "Se-Sa'at" Selain Aliran Sesat

    Tahun 2009 Masehi dan Tahun 1430 Hijriyah, Menurut KH Habib Umar Muthohar dari Semarang, masih perlu ditingkatan kewaspadaan munculnya aliran sesat. Seperti aliran sesat yang muncul sebelumnya, pada tahun 2009 nanti juga akan muncul aliran yang dicap “sesat” oleh pemerintah atau oleh pemeluk agama tertentu, karena dinilai ada penyimpangan dari syariat yang berlaku. Namun yang perlu kewaspadaan tinggi, ternyata “Aliran Se-SA’AT”. Apa itu? Penomena yang muncul sifatnya hanya sesaat. Sesaat baik, sesaat tawaduk, sesaat simpatik, sesaat peduli terhadap nasib rakyat, sesaat peduli dengan dunia pendidikan, termasuk pendidikan Pesantren. Namun setelah tercapai tujuannya, mereka akan berbalik arah atau berangsur-angsur menjaga jarak terhadap “sa’at-sa̵
  • 3

    Jan

    Ingin Merasakan Tamparan "Sego Tempong" ?

    Maraknya pemberitaan aneka kuliner di sejumlah daerah, ternyata juga mengangkat keberadaan makanan khas daerah. Di Banyuwangi selain dikenal tempat asal “Rujak Soto”, juga ada makanan yang disebut “Sego Tempong”. Nasi dengan sambal khas ini, disantap dengan lauk pada umumnya, seperti ikan laut segar goreng, tempe dan tahu goreng, bisa juga ayam goreng dan empal. Namun yang paling khusus adalah sambalnya, karena diracik secara khusus. Mulai bahan tomat (ranti-bhs Using), serta terasi yang digunakan. Bahkan saking pedasnya, orang yang habis menyatap Nasi Sambal ini seperti di-Tempong (Tampar-bhs Indonesia). Nah, dari sinilah muncul istilah “Nasi Tempong” yang membuat penyuka makanan pedas menjadi ketagihan. Sebetulnya makanan sederhana ala rakyat itu, jug
  • 3

    Jan

    "Tukang Kluncing" dalam Pertunjukan Gandrung

    Pertunjukan Gandrung, tidak bisa dilepaskan dari posisi Tukang Kluncing, biasa disebut juga “Pengundang”. Pemukul alat musik “triangle” ini, selalu ceria dan jenaka selama pertunjukan. Namun juga berwibawa dihadapan penonotn, apalagi seluruh awak keseniannya. Selain hafal semua gending-gending yang dibawakan oleh penari gandrung, Tukang kluncing juga hafal ketukan-ketukan nada dan irama musik gandrung. Ia juga sebagai komando, setiap langkah penari gandrung dan kencederungan irama musik pengiring. Inilah gambaran “Tukang Kluncing” ideal masa lalu, mungkin sekarang sudah jarang dijumpai dalam setiap pertunjukan Gandrung. “Ayo ..Tik, garapen edeng-edengan. Sampur dipegang, lempar ke muka… mulai berangkat……!!!!” Penampilan T
  • 2

    Jan

    "Jenang Suro" Tradisi Menyambut 1 Muharram

    Meski tidak ada perayaan yang sifatnya massal dalam menyambut tahun Baru Islam 1 Muharram, atau bertepatan dengan Tahun Baru Jawa 1 Suro. Namun masyarakat Banyuwangi (Baca:Using) di desa-desa, selalu menyabut dengan selamatan khusus membuat Jenang Suro (Bubur Suro). Jenang Suro yang sepintas mirip dengan bubur Jakarta ini, dibuat hanya khusus pada bulan suro, tetapi tidak diseragamkan tanggal epmbuatannya. Jenang Suro terbuat dari beras, diberi kuah kare, ditaburi irisan dadar telor, kacang tanah goreng, irisan kelapa goreng, daun sledri dan cabe merah sebagai penghias. Namun ibu dan nenek saya, tidak pernah cerita apa arti dari Jenang Suro itu. Termasuk simbol-simbol dari penampilan Jenang Suro, karena saat selamatan digelar tanpa mengundang tetangga, atau diacarakan secara khusus. Nia
  • 25

    Dec

    Berburu "Cuwut" Berhadiah Buah Kelapa

    Banyuwangi, selain dikenal sebagai pengahasil padi terbesar di Jawa Timur, juga dikenal sebagai penghasil kelapa. Tumbuhan kelapa, selain banyak ditemui di pinggiran pantai. Juga banyak tersebar di seluruh daerah pertanian lahan kering, atau orang Banyuwangi menyebut “Kebonan”. Selain memilik lahan pertanian yang ditanami padi, petani di Banyuwangi sekalgus memilik lahan kebonan yang ditanami kelapa. Nah, banyaknya pohon kelapa itu, ternyata juga dibarengi dengan banyak hama yang menyerang. Dulu hama yang menjadi momok pemilik pohon kelapa adalah Tupai (Callosciurus notatus Boddaert), atau “CUWUT”. Bahkan siapa saja yang bisa menangkap “cuwut”, pemilik kelapa akan mereka buah kelapan diambil beberap butir oleh pemburu “Cuwut” itu. Tidak ad
  • 22

    Dec

    Seblang Bakungan: Tradisi Khas Masyarakat Agraris

    Jarak antara desa Olehsari, Kecamatan Glagah, dengan Desa Bakungan juga kecamatan yang sama tidak lebih dari 5 kilometer. Namun dua desa ini memiliki tradisi berbeda, meski namanya sama, yaitu Seblang. Sehingga muncul nama Seblang Olehsari dan Seblang Bakungan. Namun secara subtansi, kedua ritual itu memiliki satu kesamaan arah dan tujuan yang ingin dicapai. Keduanya mencerminkan ritual masyarakat agraris yang menempatkan Dewi Sri sebagai simbol kesuburan. Dewi yang diyakini sebagai penjaga kesuburan tanah pertanian ini, diperlakukan sedimikian rupa oleh masyarakat petani tradisional. Bahkan tradisi “Kebo-Keboan” di desa Alasmalang, Singojuruh Banyuwangi, juga sebagai wujud pernghormatan kepada Dewi Sri. Setelah merayakan Idul Adha, atau Lebaran Haji, Warga Bakungan sibuk mem

Author

Follow Me