• 6

    Aug

    Transeksual Dalam Panggung Kesenian Tradisional

    Saat saya posting status di Facebook, tentang Seni Tari Gandrung Marsan mewakili Jawa Timur dalam festival seni tari tingkat Nasional, ada teman yang gelisah atas banyaknya pelatih Tari Banyuwangi yang cenderung didominasi kaum wadam (wandu: Using) atau transeksual. Bahkan dalam Tari Gandrung Marsan yang dikomandani Sobari Sofyan, memang kebanyakan pelakukan juga waria. Mereka seakan ingin menegaskan, bahwa Gandrung yang menjadi icon Banyuwangi itu dulunya diperankan seorang laki-laki (Gandrung Lanang). Namun saat gladi bersih di Kantor Dinas Kebudayaan dan Parisata Jawa Timur, mendapat kritik keras dari pengamat. Salah satunya adalah dominasi gerakan tari yang gemulai. Sang pengamat ini menghendaki, saat perpindahan penari bergaya perempuan ke sosok aslinya sebagai seorang pria, tidak sa
  • 15

    Jan

    "Ada Apa Dengan Wong Using..??"

    Penduduk sisa-sisa rakyat Blambangan yang mendiami wilayah Kabupaten Banyuwangi, sebagian Jember, Bondowoso, Situbondo dan Lumajang disebut masyarakat Using. Dulu sebelum dibakukan, banyak menulis dengan kata “Osing” kadang juga “Oseng”, namun setelah diurai secara fonetis oleh pakar Linguisitik dari Universitas Udayana Bali (Prof Heru Santoso), diperoleh kesepakatan resmi dengan menulis kata “Using” yang berarti “Tidak”. Pertanyaannya, kenapa orang asli Blambangan disebut Using? Penyebutan itu, sebetulnya bukan permintaan orang-orang Blambangan. Ini lebih merupakan ungkapan prustasi dari penjajah Belanda saat itu, karena selalu gagal membunjuk orang-orang sisa Kerajaan Blambangan untuk bekerja sama. Kendati pimpinan mereka sudah dikalahkan,
  • 6

    Jan

    Mewaspadai Aliran "Se-Sa'at" Selain Aliran Sesat

    Tahun 2009 Masehi dan Tahun 1430 Hijriyah, Menurut KH Habib Umar Muthohar dari Semarang, masih perlu ditingkatan kewaspadaan munculnya aliran sesat. Seperti aliran sesat yang muncul sebelumnya, pada tahun 2009 nanti juga akan muncul aliran yang dicap “sesat” oleh pemerintah atau oleh pemeluk agama tertentu, karena dinilai ada penyimpangan dari syariat yang berlaku. Namun yang perlu kewaspadaan tinggi, ternyata “Aliran Se-SA’AT”. Apa itu? Penomena yang muncul sifatnya hanya sesaat. Sesaat baik, sesaat tawaduk, sesaat simpatik, sesaat peduli terhadap nasib rakyat, sesaat peduli dengan dunia pendidikan, termasuk pendidikan Pesantren. Namun setelah tercapai tujuannya, mereka akan berbalik arah atau berangsur-angsur menjaga jarak terhadap “sa’at-sa̵
-

Author

Follow Me