• 25

    Jul

    MENYOAL "BANYUWANGI ETNO CARNIVAL"

    Gagasan Pemkab Banyuwangi menggelar Banyuwangi Etno Carnival (BEC), semacam karnaval seperti di Jember, mulai menuai protes dari sejumlah seniman dan putra daerah yang ada di luar Banyuwangi. Proyek yang dianggarkan Rp. 700 juta itu, rencananya akan menggunakan Event Organizer (EO) Profesional di bidang Karnaval yaitu JFC (Jember Fashion Carnaval) di bawah komando Dynand Fariz. Bahkan JFC akan dikontrak selama 3 tahun sebagai konsultan BEC, atau hingga panitia lokal mampu menyelenggarakan sendiri. Konsep BEC tidak jauh berbeda dengan JFC, karena konseptornya memang orang yang sama. Namun penggagas dan Pemkab Banyuwangi bertekad, akan menggali potensi seni-budaya Banyuwangi dalam BEC. Jaminannya, JFC hanya sebagai konsultan untuk membuat karnaval yang menarik perhatian dan menyedot turis
  • 28

    Aug

    "Bedug Dowo" dan "Blanggur" Saat Ramadhan

    Saat masih kecil di Banyuwangi, sekitar 1970 hingga 1980-an, adalah saat indah menjalankan ibadah puasa. Hidup pada komunitas yang homogen (100 persen Islam) dan semua fahamnya Nahdlatul Ulama, sungguh berkesan dengan akulturasi tradisi-tradisi lokal. Menjalankan puasa, sejak kelas 3 Sekolah dasar. Ada juga yang “Puasa Bedug” atau setengah hari, namun tidak sedikit yang puasa penuh. Setelah buka bersama di rumah, dilanjutkan tarawih di Masjid atau Langgar. Meski sama-sama NU, tetapi dua tempat ibadah di kampungku memberi pilihan berbeda. Di Masjid Baitul Quddus, dengan 23 rokaat tarawih, sedang di Langgar Kyai Saleh, hanya 11 rakaat. Itu berjalan puluhan tahun, tanpa ada perdebatan apapun. Waktu itu, desa kami serba minim media hiburan dan alat komunikasi. Pada bulan Ramadh
  • 6

    Aug

    Transeksual Dalam Panggung Kesenian Tradisional

    Saat saya posting status di Facebook, tentang Seni Tari Gandrung Marsan mewakili Jawa Timur dalam festival seni tari tingkat Nasional, ada teman yang gelisah atas banyaknya pelatih Tari Banyuwangi yang cenderung didominasi kaum wadam (wandu: Using) atau transeksual. Bahkan dalam Tari Gandrung Marsan yang dikomandani Sobari Sofyan, memang kebanyakan pelakukan juga waria. Mereka seakan ingin menegaskan, bahwa Gandrung yang menjadi icon Banyuwangi itu dulunya diperankan seorang laki-laki (Gandrung Lanang). Namun saat gladi bersih di Kantor Dinas Kebudayaan dan Parisata Jawa Timur, mendapat kritik keras dari pengamat. Salah satunya adalah dominasi gerakan tari yang gemulai. Sang pengamat ini menghendaki, saat perpindahan penari bergaya perempuan ke sosok aslinya sebagai seorang pria, tidak sa
  • 3

    Jan

    "Tukang Kluncing" dalam Pertunjukan Gandrung

    Pertunjukan Gandrung, tidak bisa dilepaskan dari posisi Tukang Kluncing, biasa disebut juga “Pengundang”. Pemukul alat musik “triangle” ini, selalu ceria dan jenaka selama pertunjukan. Namun juga berwibawa dihadapan penonotn, apalagi seluruh awak keseniannya. Selain hafal semua gending-gending yang dibawakan oleh penari gandrung, Tukang kluncing juga hafal ketukan-ketukan nada dan irama musik gandrung. Ia juga sebagai komando, setiap langkah penari gandrung dan kencederungan irama musik pengiring. Inilah gambaran “Tukang Kluncing” ideal masa lalu, mungkin sekarang sudah jarang dijumpai dalam setiap pertunjukan Gandrung. “Ayo ..Tik, garapen edeng-edengan. Sampur dipegang, lempar ke muka… mulai berangkat……!!!!” Penampilan T
  • 22

    Dec

    Seblang Bakungan: Tradisi Khas Masyarakat Agraris

    Jarak antara desa Olehsari, Kecamatan Glagah, dengan Desa Bakungan juga kecamatan yang sama tidak lebih dari 5 kilometer. Namun dua desa ini memiliki tradisi berbeda, meski namanya sama, yaitu Seblang. Sehingga muncul nama Seblang Olehsari dan Seblang Bakungan. Namun secara subtansi, kedua ritual itu memiliki satu kesamaan arah dan tujuan yang ingin dicapai. Keduanya mencerminkan ritual masyarakat agraris yang menempatkan Dewi Sri sebagai simbol kesuburan. Dewi yang diyakini sebagai penjaga kesuburan tanah pertanian ini, diperlakukan sedimikian rupa oleh masyarakat petani tradisional. Bahkan tradisi “Kebo-Keboan” di desa Alasmalang, Singojuruh Banyuwangi, juga sebagai wujud pernghormatan kepada Dewi Sri. Setelah merayakan Idul Adha, atau Lebaran Haji, Warga Bakungan sibuk mem
  • 22

    Dec

    Jika "Umbul-Umbul Blambangan" Tak Berkumandang

    Sudah menjadi rahasia umum, pada peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-237 kemarin, lagu “Umbul-Umbul Blambangan” tidak berkumadang lantang seperti tahun-tahun sebelumnya. Syair lagi karya Andang Chotib Yusuf dan pernah dipopulerkan Bupati Banyuwangi Syamsul Hadi ini, ternyata membuat alergi Bupati Ratna Ani Lestari. Seorang PNS di Lingkungan Pemkab Banyuwangi pernah bercerita, suatu saat Ratna meminta acara menyanyi dengan materi lagu Umbul-Umbul Blambangan agar tidak dilanjutkan. Bahkan ada upacara Harjaba, tidak lagi dinyanyikan “Umbul-Umbul Blambangan yang berbahasa Using itu, tertapi diganti dengan lagu Mars Banyuwangi berbahasa Indonesia. Keptusan Bupati yang memang bukan orang asli Banyuwangi dan Isteri seorang Bupati di Jebrana Bali, memang perlu diragukan
  • 21

    Dec

    Posisi Budaya Using dalam "Pawai Pelangi Budaya" Harjaba 2008

    Setiap puncak peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba), selalu digelar acara pawai “Pelangi Budaya” sebagai puncak dari sejumlah rangkaian acara. Tidak ketinggalan, pada peringatan Harjaba ke-237 yang jatuh pada hari kamis, 18 Desember 2008 kemarin. Pemkab Banyuwangi di bawah kepempinan Bupati Ratna Ani Lestari, pawai “Pelangi Budaya” juga digelar meski kurang maksimal dan di sana-sini terlihat kurang persiapan, atau terkesan longgar dengan memberikan kesempatan kepada peserta dari luar Kabupaten. Bahkan kesenian dari Kabupaten-Kabupaten lain itu, ternyata di Banyuwangi juga sudah ada. Sehingga kesan tumpang tindih, serta amburadulnya “rundown” acara yang berlangsung di tengah guyuran hujan ini tidak bisa terelakan. Pelangi budaya, diawali dengan kolab
  • 15

    Dec

    Batik Banyuwangi Kaya Motif, Sedikit Yang Dipatenkan

    BANYUWANGI-Tak banyak warga yang tahu, bahwa sejatinya Banyuwangi merupakan salah satu daerah asal batik di Nusantara. Banyak motif asli batik khas Bumi Blambangan. Namun hingga sekarang, baru 21 jenis motif batik asli Banyuwangi yang diakui secara nasional. Tren penggunaan motif batik pada pakaian mulai meningkat akhir-akhir. Gairah perkembangan bisnis batik kembali terasa menggeliat di Banyuwangi. Dulunya, baju batik lebih banyak dikenakan pada acara resmi. Misalnya acara resepsi atau kegiatan resmi lainnya. Namun saat ini, batik sudah banyak dipakai untuk tren baju sehari-hari. Mulai seragam sekolah dan baju kerja karyawan perkantoran, motif pelengkap kerudung, baju casual hingga busana muslim untuk acara santai. Meski sudah menjadi pakaian sehari-hari, warga Kota Gandrung banyak yan
  • 4

    Dec

    Angklung Caruk: Berpacu Hidup Sportif

    “Caruk” alam bahasa Using berarti “temu”. Kata dasar itu bisa diucapkan “Kecaruk” atau “Bertemu”. Nah , Kata “Angklung Caruk” artinya adalah dua kelompok kesenian angklung yang dipertemukan dalam satu panggung, saling beradu kepandaian memainkan alat musik berlaras pelog itu, dengan iringan sejumlah tembang Banyuwangian. Meski tidak ada aturan secara tertulis, kedua kelompok kesenian itu sejak puluhan tahun sudah memahi aturan yang menjadi kesepakatan. Sehingga, mereka tidak ada yang curang, tidak ada yang marah, saat kurang mendapatkan respon atau aplaus dari penonton. Tradisi Angklung Caruk adalah gambaran betapa tingginya apresiasi warga Banyuwangi terhadap musik daerahnya. Tradisi ini ada, jauh sebelum acara BERPACU DALAM M
-

Author

Follow Me