SASTRA USING MASA KONFLIK POLITIK (2)

24 Jan 2011

Pada masa menjelang kemerdekaan, Sastra Using tetap seperti jaman sebelumnya. Berkembang secara lisan dan berciri khas kerakyatan, meski secara berangsur-angsur mulai ada perbaikan ke arah sastra modern. Jika sebelumnya Sastra Using hanya disebarkan lewat Ritual Seblang dan Kesenian Gandrung, menjelang kemerdekaan bertambah media penyebaran baru, yaitu Kesenian Angklung. Pada masa ini, pengarang Sastra Using sudah melengkapi dengan Not Balok (partitur). Namun sayang, not balok itu tidak dipublikasikan dan hanya disimpan pengarangnya.

Dalam setiap pementasan Kesenian Angklung, selalu membawakan lagu hasil kreasi baru. Tidak jarang, juga masih membawakan syair lagu yang sebelumnmya dipopulerkan melalui Kesenian Gandrung. Dari segi isi bisa dibedakan, syair lagu yang dibawakan Kesenian Gandrung biasanya bertema Cinta dan kehidupan sosial. Namun syair lagi yang dipopulerkan Kesenian Angklung biasanya berupa nyanyian rakyat: atau lagu dolanan anak-anak diberi roh berupa penambahan syiar baru. Penambahan syair baru ini, justru akan mempermudah penikmat untuk menguraikan makna dari lagu dolanan itu sendiri.

Para sekitar tahun 1942, berkembang lagu Kesenian Angklung yang terkenal berjudul Genjer-Genjer. Syair lagi ini diciptakan oelh M. Arif, seorang seniman pemukul alat instrumen Angklung. Berdasarkan keterangan teman sejawat almarhum Arif, lagu Genjer-Genjer itu diangkat dari lagu dolanan yang berjudul Tong Alak Gentak. Lagu rakyat yang hidup di Banyuwangi itu, kemudian diberi syiar baru seperti berikut:

GENJER-GENJER
Genjer-genjer ring kedokan pating keleler
Emake Thole teka-teka muputi genjer
Oleh sak tenong mungkur sedot sing tolih-tolih
Genjer-genjer saiki digowo mulih

Genjer-genjer esok-esok diedol ning pasar
Dijejer-jejer diuntingi pada didasar
Emake Jebeng podo tuku dienggo iwak
Genjer-genjer saiki podho diolah

Genjer-genjer melbu kendil wedang gemulak
Setengah mateng dientas wong dienggo iwak
Sego ring piring sambel jeruk ring pelonco
Genjer-genjer saiko podo dipangan

Berdasarkan penutusan teman-teman pengarang yang berhasil ditemui penulis, syair lagu Genjer-Genjer dimaksudkan sebagai sindiran atas kedatangan Jepang ke Indonesia. Pada saat itu, kondisi rakyat semakin sesangsara dibanding sebelumnya. Bahkan genjer (Limnocharis flava) tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa sebelumnya dikosumsi itik, namun menjadi santapan yang lezat akibat tidak mampu membeli daging. Menurut Suripan Sadi Hutomo (1990: 10), upaya yang dilakukan M Arif sesuai dengan fungsi Sastra Lisan, yaitu sebagai kritik sosial, menyidir penguasa dan alat perjuangan.

Namun dalam perkembangan, lagu Genjer banyak diselewengkan untuk kepentingan politik pada waktu itu. Bahkan setelah lagu itu menajdi terkenal setelah dibawakan Bing Slamet dan Lilis Suryani dalam rekeman piringan hitam, kemudian muncul pengakuan dari Jawa Tengah, bahwa lagu Genjer-Genjer ciptaan Ki Narto Sabdo seorang dalang kondang. Dalam sebuah tulisannya Hersri Setiawan, memberikan penjelasan tentang asal-muasal hingga lagu Genjer-Genjer menjadi terkenal.

Menurut mantan Ketua Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA) Jawa Tengah ini,
pada bulan Desember 1962, para sastrawan dari beberapa lembaga kebudayaan di Indonesia, mendapat undangan untuk mengikuti sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Komite Eksekutif Biro Pengarang Asia-Afrika di kota Denpasar, Bali. Selain wakil-wakil dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) milik PNI, berangkat juga perwakilan dari Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) milik NU. Utusan dari Lekra dipimpin oleh Jubaar Ajoeb dangan peserta antara lain Rivai Apin, Hr. Bandaharo, Pramudya Ananta Toer, Bujung Saleh Puradisastra, Dodong Jiwapraja, Samandjaja, Sobron Aidit dan Nyoto alias Iramani.

Bahkan dalam uraianya, Hersri menjelaskan bagaiman antusianya Nyoto salah satu petinggi PKI saat mendapat hiburan lagu Genjer-Genjer. Kemudian, Nyoto yang juga seniman dibidang musik ini, membawa lagu ini dalam sieran RRI dan TVRI hingga akhirnya masuk dapur rekaman. Insting Nyoto benar, setahun diperdengarkan secara nasional lagu Genjer-Genjer menjadi terkenal. Meskipun syair yang dibawakan Bing Slamet (chek www.youtube.com) dan Lilis Suryani sudah tidak utuh lagi. Saking terkenalnya, lagu genjer-genjer sampai dihafal warga-warga di pedesaan Indonesia tanpa mau tahu siapa penciptanya. Bahkan, syair yang dinyayikan di sana-sana banyak yang hilang kadang ditambah sesuai keinginan mereka.

Akibat lagu Genjer-genjer sering dikumdangan saat acara-acara PKI, serta nama kesenian Angklung Banyuwangi yang pro Lekra juga Genjer-Genjer, akhirnya pemerintah Orde Baru melarang lagu Genjer-Genjer bersama dilarangnya PKI di Indonesia. Berdasarkan interprestasi sepihak, ada yang mengatrikan lagu Genjer-genjer itu sebagai gambaran simbolik peristiwan G.30/S PKI. Ungkapan: Genjer diuntinge podo didasar, dianggap sebagai gambaran kondisi para Jenderal yang menjadi bulan-bulanan PKI. Selain itu, memang ada yang sengaja mengganti syair asli tersebut, sesui keinginan masing-masing. Inilah resiko kalau karya satra yang berkembang secara lisan.

Jika perkembangan sastra Using ditilik dari luar, terkesan hanya lagu Genjer-genjer yang paling monumental. Padahal di Banyuwangi sendiri, telah berkembang Sastra Using lainnya dalam bentuk Pantun (Basanan), Syiiran (Syair) yang biasa dikembangkan oleh Lembaga Kesenian milik Partai Politik saat itu. Syair-syair Islam yang bertemakan puji-pujian tentang kagungan Tuhan, serta persitiwa-peristiwa penting. Namun tidak sedikiti, syiiran ini juga bertemakan penyerangan terhadap Parpol lain yang menjadi lawan. Seperti syiiran yang dikumdangkan Fatayat NU Banyuwangi: Fatayat kudunge Abang/ Lambang NU bintang sembilan// PKI ayo digannyang/ Germani ayo dibuang//

Memang saat itu persaingan antara seniman dan pengarang Sastra Using cukup ketat, baik dalam memperkenalkan konsep kesenian maupun dalam menjaga mutu hasil dari kesenian itu sendiri. Dari segi pendidikan kesenian, para seniman Lekra mendapatkan guru khusus dari Rusia. Sementara seminan dari Parpol lain saat itu, hanya menempuh pendidikan formal di Indonesia dan Pondok Pesantren. Inilah sedikit tentang perkembangan Sastra Using pada saat konflik Politik, tetapi masih sedikit yang bisa diungkap hasil karyanya. Perlu kerja keras, untuk mengumpulkan hasil karya Sastra Using lisan pada waktu itu. Baik yang dihasilkan seniman Lusbumi, LKN maupun dari seniman yang netral.
(BERSAMBUNG)


TAGS


-

Author

Follow Me