Mengenang “Lebaran Brojolan”

16 Sep 2009

“Lebaran Brojolan” adalah lebaran yang jatuh lebih cepat dari perkiraan. Misalnya dalam kalender resmi sudah ditetapkan, lebaran akan jatuh pada hari Minggu. Namun pada saat digelar Rukyatul Hilal (melihat Bulan dengan mata telanjang) hari Jumat petang, ternyata hari sudah dilihat bulan. Maka keputusaannya, puasa harus disudahi dan lebaran hari dilaksanakan pada hari Sabtu pagi. Ummat Islam yang sudah menyiapkan Hari Raya Idul fitri pada hari minggu itu, langsung tergopoh-gopoh menyiapkan aneka masakan untuk esuk harinya secara marathon. Mereka tergopoh-gopoh, karena sekaligus juga menyiapkan untyuk Sholat Ied pada pagi harinya. Ibarat orang hamil, “Lebaran” itu lahir sebelum waktunya.

Sebelum era informasi sedahsyat sekarang, keputusan-keputusan dari Pemerintah hanya mengandalkan Radio Republik Indonesia (RRI), Telegraf atau HT dari aparat-aparat keamanan dan ORARI, untuk menjangkau rakyat di pelosok pedesaan. Termasuk saat keputusan Hari Raya Idul Fitri, media-media itulah yang digunakan pemerintah. Sehingga tidak heran, masih banyak kelompok masyarakat yang lambat menerima keputusan itu, akibat harus disambung penyampainya secara manual. Atau mengumumkan langsung dari rumah ke rumah.

Istilah “Lebaran Brojolan” memang sering saya temui saat hidup di desa, karena masyarakat desa saya selalu menghitung kapan lebaran tiba. Bahkan kepada anak-anaknya selalu dikatakan, “Lebaran wis teko kampung sebelah. Kesok wis teko kene, makane puosone hang patheng ojok sampek mothel” (Lebarannya sudah sampek di desa sebelah, makanya puasanya jangan sampek batal). Itulah sekelumit bujuk rayu orang tua kepada anakanya, agar tetap bersemangat dalam menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan hingga tuntas. Sang anak tentu sangat gembira menyambut lebaran, selain mengenakan baju baru. Aneka kua dan mekanan juga akan melimpah ruah. Berbagai pesta juga digelar, terutama main petasan.

Namun “Lebaran Brojolan” itu, sekarang tinggal kenangan. Sulit rasanya, melihat ada orang yang tergopoh-gopoh memeprsiapkan perayaan lebaran. Mengingat, tahapan-tahapan keputusan pemerintah sudah masuk ke dalam rumah warga melalui layar televisi. Bahkan aktivitas dari lembaga dan ormas keagamaan yang sedang menggelar Rukyatul Hilal, juga bisa mereka ikuti dari tempat yang berbeda. Bahkan tumbuhnya tolerasni yang sangat tinggi, memungkinkan Ummat Islam merayakan Lebaran dengan hari berbeda dengan keyakinan dalam menentukan hitungan. Apabila yakin mengikuti Pemerintah, maka sesuai dengan kalender atau keputusan resmi yang disiarkan pada malam harinya. Apabila sudah yakin dengan keputusan ormas Islam tertentu, ya dipersilahkan……

Inilah lompatan era informasi yang paling dahsyat, sehingga bisa melancarkan kegiatan orang menjalankan ritual keagamaan.


TAGS


-

Author

Follow Me