“Bedug Dowo” dan “Blanggur” Saat Ramadhan

28 Aug 2009

Saat masih kecil di Banyuwangi, sekitar 1970 hingga 1980-an, adalah saat indah menjalankan ibadah puasa. Hidup pada komunitas yang homogen (100 persen Islam) dan semua fahamnya Nahdlatul Ulama, sungguh berkesan dengan akulturasi tradisi-tradisi lokal. Menjalankan puasa, sejak kelas 3 Sekolah dasar. Ada juga yang “Puasa Bedug” atau setengah hari, namun tidak sedikit yang puasa penuh. Setelah buka bersama di rumah, dilanjutkan tarawih di Masjid atau Langgar. Meski sama-sama NU, tetapi dua tempat ibadah di kampungku memberi pilihan berbeda. Di Masjid Baitul Quddus, dengan 23 rokaat tarawih, sedang di Langgar Kyai Saleh, hanya 11 rakaat. Itu berjalan puluhan tahun, tanpa ada perdebatan apapun.

Waktu itu, desa kami serba minim media hiburan dan alat komunikasi. Pada bulan Ramadhanlah, justru bisa menjadi hiburan tersendiri. Desa yang biasanya sepi menjadi rame, mulai saat buka puasa tiba, tarawih hingga menjelang sahur dan berhenti saat subuh.

Tarawih dengan total 23 rakaat, speednya memang tinggi. Termasuk dalam melafalkan Surat bacaan sholat, sangat cepet dan relatif tidak sampai terselip lidah. Nah yang paling khas adalah saat akhir Sholat Tarawih, setelah wirid. Bacaah Asmaul Husna, meski berbahasa Arab, namun cengkok dan aksen Usingnya sangat khas.

“Wujud, khidam, baqo’ mukholafathul lil hawadisi, khiyamuhu binafsihi, wahdaniyah, kodrat, irodhat, ilmua hayat, ……….
.” Suara lantang dan cempreng, terdengar juga di Langgar khusus jamaahnya perempuan. Inilah yang membawa “religiusitas” warga desa kami cukup tinggi, namun tidak fanatif dan radikal dalam memahmi agama.

Bagi mereka yang dewasa, kegiatan selanjutnya dilakukan Tadarus (Membaca Al Qur’an). Namun bagi anak-anak yang masih kurang lancar membaca Al Qur’an, maka saatnya membuat hiburan sendiri dengan musik Patrol. Mereka ada yang sengaja sudah dipersiapakan orang tuanya, dengan patrol dan ketongan dari bambu. Namun bagi yang tidak mempunyai alat musik itu, apapun bisa dipukul menjadi alat musik. Tentu saja, irama musik Patrol anak-anak ini tidak terarah, pokoknya bunyi. Anehnya, meski kadang berisik (karena keliling kampung saat orang akan istirahat) namun tidak ada yang marah. Kegiatan ini selesai setelah jam 21.00.

Sementara aktivitas Tadarus di Masjid dan Langgar terus berlangsung hingga pukul 12.00, atau jam 00.00. Selama tadarus berlangsung, makanan kecil dan minuman manis datang tanpa diminta. Sebelum tadarus berakhir, para pemuda ini biasanya memukul Bedug, yang disebut “Bedug Dowo”, yaitu membunyikan bedug bertalu-talu secara bergantian, tetapi tanpa irama. Sebelum adanya lostspeker dan listrik masuk desa, “Bedog Dowo” sangat dinanti-nantikan warga, sebagai tanda santap sahur.

Namun setelah adanya lostspeker di Masjid, “Bedog Dowo” hanya formalitas saja. Kebanyakan warga memilih sahur saat menjelang subuh. Semua Masjid di desa, sudah dilengkapi alat pengeras suara. Apalagi setelah PLN masuk desa, kegiatan di Masjid justru tidak pernah tidur selama bulan ramadhan. Tadarus yang biasanya berakhir menjelang pukul 12 malam, bisa dilanjutkan hingga menjelang subuh. Kegiatan membangunkan orang sahur di masjid-masjid juga rame, karena anak muda atau siapapun bisa menggunakan pengeras suara untuk membangunkan saudaranya, kenalannya atau orang-orang terdekatnya yang ada di ujung desa.

Nah saat berbuka puasa di desa, tidak hanya berpatokan pada bunyi bedung di Maskid. Namun ada juga penanda lain yang disebut “Blanggur”, yaitu semacam bunyi keras yang ditimbulkan dari pembakaran asap karbit yang dimasukan ke dalam gundukan tanah. Ada juga yang dibuat dari batang bambu atau jambe, namun suara masih kalah dasyat dengan yang di tanam di tanah.

“Blanggur” itu ada juga yang menyebut “Long”, tidak tahu kenapa disebut long. Namun ada dua “Long” yang biasa dimainkan anak-anak saat Ramadhan hingga lebaran, yaitu “Long Jajang (Bambu)” yang berbahan baku minyak tanah dan Long Lemah (Tanah)” atyau disebut blanggur berhan karbit. Long bambu, bisa dinyalakan pada malam hari setelah tarawih, dengan bunyi yang bertalu-talu, karena tidak terlalu keras. Sedangkan Long Tanah atau Blanggur, hanya dibunyikan saat tertentu, karena bunyinya sangat keras.

Sekarang pembuatan Blanggur ini jarang dilakukan anak-anak atau para pemuda, karena rata-rata pemukiman di desa relatif padat. Padahal Blanggur ini harus jauh dari pemukiman, karena getarannya sanggat mengga pondasi rumah. Bisa saya genteng mapun kaca akan rontok, bila ledakan blanggur itu sangat besar. Namun apabila dibuat di kebun atau sawah, makan penduduk di suatu desa yang merasakan dan mendengarkan bunyi sebagai penanda, tanpa merasakan dampak getaran.

Tentu tradisi Beduh Dowo dan Blanggur, saat ini sudah tidak seperti dulu lagu fungsinya, karena sudah digantikan dengan alat-alat komunikasi lain yang lebih canggih……


TAGS


-