Mewaspadai Aliran “Se-Sa’at” Selain Aliran Sesat

6 Jan 2009

Tahun 2009 Masehi dan Tahun 1430 Hijriyah, Menurut KH Habib Umar Muthohar dari Semarang, masih perlu ditingkatan kewaspadaan munculnya aliran sesat. Seperti aliran sesat yang muncul sebelumnya, pada tahun 2009 nanti juga akan muncul aliran yang dicap “sesat” oleh pemerintah atau oleh pemeluk agama tertentu, karena dinilai ada penyimpangan dari syariat yang berlaku. Namun yang perlu kewaspadaan tinggi, ternyata “Aliran Se-SA’AT”. Apa itu? Penomena yang muncul sifatnya hanya sesaat. Sesaat baik, sesaat tawaduk, sesaat simpatik, sesaat peduli terhadap nasib rakyat, sesaat peduli dengan dunia pendidikan, termasuk pendidikan Pesantren. Namun setelah tercapai tujuannya, mereka akan berbalik arah atau berangsur-angsur menjaga jarak terhadap “sa’at-sa’at” belum tercapai tujuannya.

Pengajian Haul KH Jazuli (Gus Mik) dari Ponpes Al Fallah Ploso Kediri, Senin malam itu dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, serta sebagian Jawa Barat. Selain itu. ulama karismatik dari berbagai daerah, juga hadir dalam kesempatan ini. Seperti KH. Idris Marzuki dari Lirboyo Kediri, KH Mas Subadar Pasuruan, KH Mansur Aziz dari Jombang, serta puluhan Kyai lainnya. Puncak dari kegiatan Haul ini adalah ceramah agama dari sejumlah Kyai, isinya mengupas kiprah Gus Mik dengan Sema’an Alqur’an dan Ponpes Al Fallah Ploso milik keluarganya yang memiliki ribuan santri dari berbagai daerah di Indonesia. Serta hal-hal positif yang perlu diteladani.

Namun ceramah terakhir yang disampaikan Habib Umar Muthohar dari Semarang, cukup menggelik dan banyak memancing tawa opada jamaah. Mesku waktu sudah menujukan pukul 23.00 lebih, namun mereka yang hadir tetap semangat dan tidak ada yang beringsut dari tempatnya. Ceramah yang diawali dengan kata pembuka, penghormatan kepada yang hadir. Para Kyai dan Syeh, termasuk Syech Pudji dari Semarang yang hadir juga dalam acara itu. Meski tidak terlalu dalam, Habib Umar sempat menyindir penggunaan nama Syech di depan, karena sudah mindistorsi makna Syeh itu sendiri yang di kalangan Islam mencerminkan orang yang beraklak mulia dan bisa ditauladi. Namun Habib Umar tidak memperpanjang bahasannya, karena kembali kepada indivindu masing-masing dan hal pribadi seseorang untuk memilih nama.

Selanjutnya, Habib Umar membahas tentang Tahun baru Islam yang bersamaan dengan Tahun Baru Masehi. Menurut Habib Umar, tahun 2009 Masehi dan 1430 Hijriyah, merupakan tahun optimis. Namun yang perlu diwasdai, selain masih munculnya aliran sesat seperti tahun-tahun sebelum, yang tidak kalah penting dan perlu kewaspadaan adalah aliran “Sesaat”. Hadiran sempat penasaran, terhadap lontaran yang disampaikan Habib dari Semarang ini. Apalagi, dalam menyampaikan penuh ger-geran. Sejak awal naik pidium, tidak ada habis-habisan Habib Umar mengocok perut hadiran hingga mereka terus terbelalak meski jam sudah menujukan angklan 23.30.

Aliran “Sesaat” menurut Habib Umar, adalah munculnya fonomena yang dilakukan perorangan maupun kelompok, untuk menarik simpatik dan dukungan dari manampun, agar bisa tercapai apa yang dicita-citakan. Berbagai contoh diungkapkan, mulai dari Calon Legeslatif yang sekarang lebih rajin bersilaturahmi kepada para Kyai dan Pengasuh Ponpes, hingga mereka yang sekarang tiba-tiaba menjadi dermawan, sok peduli terhadap nasib sesama. Tidak kalah menariknya, “anggota aliran sesaat” ini, juga menjanjikan kemudahan-kemudahan, terhadap warga, kelompok atau siapan yang mengalami kesulitnya. Syaratnya, tentu saja, agar rakyat, Kyai atau kelompok masyrakat lainnya, mau membantu ia mencapai suara terbanyak dalam Pemilihan Legeslatif mendatang.

Selain mengingatkan kepada kelompok aliran sesaat, agar mereka melakukan cara-cara yang elegan dan bermartabat, juga kepada calon pemilih diminta untuk waspada dan waspada. Jika memang memilih partai atau Caleg tertentu, pilihan sesuai dengan keyakinan yang dimilki, bukan karena materi yang dibawa oleh Partai dan Caleg. Jang mudah tergiur dengan penampilan “sesaat”, tetapi lebih mendalami siapa sebenarnya calon yang akan ia pilih. Kalau memang belum mengetahui dengan latar belakang dan sosok yang akan dipilihan, diminta untuk mengkomunikasikan dengan orang lain yang lebih mengerti, termasuk kepada para kyai yang masih netral. Wejangan-wejangan ini, sisampaikan dengan selingan humor tinggi. Selain tertawa lebar setiap ada joke-joke menarik, ternyata hadiran merasa puas atas wawasan yang disampaikan Habib Umar.

Kepada para Caleg dan Partai Politik, Habib Umar meminta mencontoh cara Kyai dalam merebut hari rakyat. Tidak ada Kyai yang memasan iklan dan pengumuman, tentang lembaga pendidikan yang dikelolanya. Namun ribuan orang tua dari berbagai daerah, datang setiap saat untuk mempercayakan anaknya agaer dididik ilmu agama. Tidak ada juga Kyai yang berpengaruh dan banyak didatangi orang dalam setiap kesempatan, karena ia telah memasang baliho dan sepanduk di perempatan-perempatan jalan. Ketika menyampaikan ini, Habib Umar mengaku prihatin, karena saking banyaknya baliho Caleg dan Parpol berdiri di berbagai sudut ketika, hingga burung yang akan terbang pun kesulitan mencari selah untuk terbang, atau sekedar mencari makanan.

Selain itu, munculnya tokoh-tokoh Nasional yang membentuk orgabnisaisi dan Parpol baru, juga harus diwaspadai. Rakyat tidak mudah dengan janji-janji yang ditawarkan, atau uang dan materi yang diberika, agar mau bergabung dan mendukung mereka. Mengetahui latar belakang para tokoh tiu di masa lalu, adalah hal yang amar penting. Jangan sampai, masa lalu yang gelap akan hilang, karena kebaikan “sesaat” itu. Piliha tokoh dan calon pemimpin, tidak diukur populritas yang mereka lakukan dengan kampnaye pencitraan. Uang milyaran rupiah untuk kampanye lewat iklan televisi, tentu lebih efekti untuk membuat program nyata yang berguna dan bermamfaat terhapda rakyat banyak.

Terima kasih Habib Umar Muthohar, cermahnya menyejukan. Semoga bermamfaat dan bisa mendekteksi maraknya “Aliran Sesaat” tahun 2009 ini ……..


TAGS


-

Author

Follow Me