“Tukang Kluncing” dalam Pertunjukan Gandrung

3 Jan 2009

Pertunjukan Gandrung, tidak bisa dilepaskan dari posisi Tukang Kluncing, biasa disebut juga “Pengundang”. Pemukul alat musik “triangle” ini, selalu ceria dan jenaka selama pertunjukan. Namun juga berwibawa dihadapan penonotn, apalagi seluruh awak keseniannya. Selain hafal semua gending-gending yang dibawakan oleh penari gandrung, Tukang kluncing juga hafal ketukan-ketukan nada dan irama musik gandrung. Ia juga sebagai komando, setiap langkah penari gandrung dan kencederungan irama musik pengiring. Inilah gambaran “Tukang Kluncing” ideal masa lalu, mungkin sekarang sudah jarang dijumpai dalam setiap pertunjukan Gandrung. “Ayo ..Tik, garapen edeng-edengan. Sampur dipegang, lempar ke muka… mulai berangkat……!!!!”

Penari Gandrung

Penampilan Tukang Klucing sangat menonjol, setelah penari Gandrung itu sendiri. Dialah yang mengucapkan salam pembuka kepada penonton, undangan dan tuan rumah, saat Kesenian Gandrung yang mereka bawa akan melakukan pertunjukan. Segala sesuatunya dan aturan main dalam pertunjukan, juga akan diungkapkan Tukang Kluncing. Termasuk bagaimana tata cara seorang Paju (penari undangan) atau Ngerpen (membeli gending). Dalam sambutan itulan, tercermin otoritas seorang Tukang Kluncing terhadap kesenian dan panjak yang mereka pimpin. Tidak ada seorang pun dalam pertunjukan itu, akan melawan keputusan Tukang Kluncing. Termasuk para pemanju, atau undangan VIP yang biasa ngrempen.

Seorang Tukang Kluncing adalah pemandu musik, untuk mengiringi gending-gending yang dinyanyikan gandrung. Alat musik yang mana harus diperkera, serta bagaiman ketukannya. Selain itu, Tukang Kluncing adalah pemandu gerak penari Gandrung melalui bahasan verbal. Ia akan mengawarang penari gandrung dalam mengawali gerakannya, termasuk menggoyangkan pinggulnya. Tentu, harus memenuhi etika yang berlaku. Tidak vulgar dan seronok, serta masih berada dalam frame estetikan gerak.

Saat Tukang Kluncing memainkan perannya yang sangat komplek itu, alat musik Kluncing atau Triangle” tidak pernah lepas dan berhenti, untuk mengiring bunyi kendang dan kempul yang selalu kompak dalam setiap ketukannya. Kluncing sendiri, kono merupakan alat musik tertua di dunia. Bahkan dalam kelompok orkestra juga menggunakan tiangle ini. Namun yang beda mungkin cara memainkannya, sehingga bunyi yang dihasilkannya pun sedikit berbeda. Alat musik yang terbuat dari besi batangan kecil, dibentuk segitiga dan pemukulnya juga menggunakan besik yang sama. Cara memukulnya, dipukul sisi-sisinya dengan digenggam kadang juga dilepas.

Namun dalam perkembangannya, ternyata posisi Tukang Kluncing mulai bergeser. Ini juga akibat dominasi “uang” dan “penguasa” dalam pertunjukannya Gandrung itu sendiri. Jika pada penjajahan Belanda atau sebelumnya, kehadiran orang asing itu melahirkan kolaborasi dengan masih memperhatikan estikan dan moralitas, atau kearifan lokal. Namun dalam era orde baru, era kemerdakan RI dan sesudahnya, justru memprihatinkan. Konon saat orang Eropa pertama melihat pertunjukan Gadrung masing menggunakan seruling, kemudian memadukan nada-nadanya dengan biola yang mereka bawa. Setelah terjadi keselaran nada, maka masuklan alat musik itu hingga sekarang. Penguasa dan Penjajah Belanda yang pertama melihat pertunjukan Gandrung, juga menyodorkan kaos kaki warna putih kepada penari Gandrung. Setelah melihat kaki penari Gandrung saat itu, telihat kotor atau kurang menarik. Maklum kebanyakan penari Gandrung sekaligus anak petani yang sering turun sawah, selain itu pertunjukan Gandrung tidak di panggung., melainkan di atas tanah, kemudian dalam perkembangannya diberi alas tikar.

Dalam perkembangan itu, posisi Tukang Kluncing masih seperti gambaran ideal. Namun setelah masuknya suku-suku lain menjadi pejabat di Banyuwangi, mereka inilah yang kemudian sedikit demi sedikit mulai menggeser atau melemahkan posisi Tukang Kluncing. Mereka dengan seenaknya memperlakukan Penari Gandrung, baik saat “Ngrempen” maupun “Paju”, tanpa mengiraukan peran Tukang Kluncing. Para “Penguasa Lokal” ini, berpandangan apriori terhadap Gandrung. Mereka menyamakan Gandrung seperti kesenian Lengger di kawasan Tapak Kuda Jatim, atau seperti Tayub yang berkembang di Jawa Timur Mataraman. Konon, mereka inilah yang membawa minuman keras dalam setiap pertunjukan Gandrung.

Sebetulnya, toleransi kesenian Gandrung terhadap orang-orang dari luar ini sudah diimbangi, dengan menuruti kemaun mereka menyanyikan gending-gending Jawa. Misalnya Gending Kutut Manggung yang sangat populer di Jawa, tetapi bisa diadopsi penari Gandrung dan groupnya. Namun permintaan itu, ternyata “Ngelamak” kepada hal-hal yang esensi dari Kesenian Gandrung itu sendiri. Penari Gandrung legendaris asal Kemiren, Mbok Temu, pernah cerita kepada penulis. Saat masih aktif, sering menolak permintaan yang dianggap sudah kelewat batas. Meski saat itu yang mementa seorang Komandan Rayon Militer (Danramil), maka akan ditolaknya. Padahal resikonya sangat berat, mengingat saat itu rezim militer sangat berkuasa di negeri ini.

Seorang Budayawan Hasan Ali, pernah juga bercerita kepada penulis tentang seorang Tukang Kluncing “ngambul” dan meninggalkan pementasan yang sedang berlangsung. Cerita ini tentu perlu disebarkan dan diteladani mereka yang berporfesi sebagai Tukang Kluncing. Menurur Pak Hasan (Yang lupa nama Tukang Kluncing asal Mangir itu), sang Tukang Klucing sudah mengingatkan kepada “Tamu VIP” yang ngerpen, karena memangku penari Gandrung. Sang pejabat lokal dalam keadaan mabuk, tidak menggubris permintaan Tukang Kluncing. Sang Gandrung dalam posisi ketakutan, juga tidak bisa berbuat banyak. Apalagi penonton dan tuan rumah, juga dalam posisi yang sama (Baca: takut).

Merasa eksistensinya sebagai pemegan “Otoritas Tunggal” pementasan Kesenian Gandrung sudah tidak berarti lagi, sang Tukang Kluncing yang dikenal jenaka, serta latah ini, sontak meninggalkan pementasan. Tidak ada yang bisa dijelaskan lagi, karena mereka yang diberi penjelasan tidak mau tahu dan tidak ingin tahu. Setelah itulah, konon kesenian Gandrung ini pentas dalam kondisi “ketakutan” dan memilih aman dan selamat. Mengingat jika melawan secara langsung, bisa dibayangkan keselamatan jiwa dan keluarganya. Ancaman dan teror khas Orde Baru, bisa dipastikan akan diterima. Setelah “Ngambul” itu. konon Tukang Kluncing asal Mangir, Rogojampi ini tidak mau lagi pentas Gandrung, jika kondisinya masih sama.

Ulah “Danramil” dan pejabat lokal yang bukan pemilik syah dari Tradisi Using ini, tentu tidak sampai terdengar pejabat di atasnya. Kalau sampai terdengar pun, bisa dipastikan tidak akan reaksi apa-apa. Mengingat setali tiga uang, mereka berasal dari daerah yang sama. Tidak mengerti dan tidak mau belajar, tentang budaya dan tradisi di daerah yang mereka pimpin. Padangan “menyamakan” atau “gebyah-uyah” dengan kesenian serupa yang tumbuh dan berkembang di luar Banyuwangi, adalah pangkal dari penyimpangan dan penyelewengan itu.

Dalam perkembangan selanjutnya, Kesenian Gandrung mulai dijauhi oleh Ormas-ormas Islam di Banyuwangi. Bahkan sering, mereka menganjurkan agar ummat Islam tidak melihat pertunjukan gandrung, ada juga yang mengharamkan. Padahal dalam setiap pementasan Gandrung, selalu dibacakan doa-doa tentang keselamatan yang menggunakan bahasa Arab. Dalam sesi poementasannya, ada juga yang dinamakan Seblang Subuh, berisi tentang petuah dan ajara-ajaran tentang moral dan kebaikan. Pementasan Gandrung selalu dimulai setelah Sholat Isya, serta diakhiri menjelang waktu sholat subuh……


TAGS


-