Jika “Umbul-Umbul Blambangan” Tak Berkumandang

22 Dec 2008

Sudah menjadi rahasia umum, pada peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-237 kemarin, lagu “Umbul-Umbul Blambangan” tidak berkumadang lantang seperti tahun-tahun sebelumnya. Syair lagi karya Andang Chotib Yusuf dan pernah dipopulerkan Bupati Banyuwangi Syamsul Hadi ini, ternyata membuat alergi Bupati Ratna Ani Lestari. Seorang PNS di Lingkungan Pemkab Banyuwangi pernah bercerita, suatu saat Ratna meminta acara menyanyi dengan materi lagu Umbul-Umbul Blambangan agar tidak dilanjutkan. Bahkan ada upacara Harjaba, tidak lagi dinyanyikan “Umbul-Umbul Blambangan yang berbahasa Using itu, tertapi diganti dengan lagu Mars Banyuwangi berbahasa Indonesia. Keptusan Bupati yang memang bukan orang asli Banyuwangi dan Isteri seorang Bupati di Jebrana Bali, memang perlu diragukan kepedulian terhadap seni budaya daerah yang dipimpinnya.

puputan-bayu-2.jpg
UMBUL-UMBUL BLAMBANGAN

Lagu&Arr : BS. NOERDIAN
Lirik : ANDANG CY

Bul-umbul Belambangan 3x
Umbul-umbul Belambangan eman
He umbul-umbul he Belambangan 2x

Belambangan, Belambangan
Tanah Jawa pucuk wetan
Sing arep bosen sing arep bosen
Isun nyebut-nyebut aran ira
Belambangan, Belambangan

Membat mayun Paman
Suwarane gendhing Belambangan
Nyerambahi nusantara
Banyuwangi kulon gunung wetan segara
Lor lan kidul alas angker
keliwat-liwat
Belambangan.. Belambangan

Aja takon seneng susah kang disangga
Tanah endah gemelar ring taman sari nusantara
He.. Belambangan He Belambangan
Gemelar ring taman sari nusantara

Belambangan he seneng susahe wistah aja takon
Wis pirang-pirang jaman turun temurun yong wis kelakon
Akeh prahara taping langitira magih biru yara
Magih gedhe magih lampeg umbak umbul segaranira

Belambangan he.. gunung-gunungira magih perkasa
Sawah lan kebonanira wera magih subur nguripi
Aja kengelan banyu mili magih gedhe seumberira
Rakyate magih guyub ngukir lan mbangun sing mari-mari

He Belambangan lir asata banyu segara
Sing bisa asat asih setya baktinisun
Hang sapa-sapa baen arep nyacak ngerusak
Sun belani sun dhepani sun labuhi

Ganda arume getih Sritanjung yong magih semebrung
Amuke satria Menakjingga magih murub ring dhadha
Magih kandel kesaktenane Tawang Alun lan Agung Wilis
Magih murub tekade Sayuwiwit
Lan pahlawan petang puluh lima

Ngadega jejeg ngadega jejeg
Umbul-umbul Belambangan
Ngadega jejeg adil lan makmur
Nusantara

Banyuwangi, 1974

Meski ditulis pada tahun 1974, namun lagu Umbul-Umbul Blambangan benar-benar populer, saat masa jabatan Bupati Syamsul Hadi. Selain orang Banyuwangi asli, Syamsul yang pernah kuliah di Yogyakarta dan hidup di Jakarta, merasa terwakili untuk membangun tanah kelahirnnya, dari semangat lagu Umbul-Umbul Blambangan. Bahkan buah cintanya terhadap lagu ini, Suamsul sengaja memberi nama Kapal Phinisi yang rencananya akan digunakan mempromisikan Wisata Budaya Using ke sejumlah benua itu, dengan nama Kapal Layar “Umbul-Umbul Blambangan”.

Tentu pilihan Syamsul itu tidak berlebihan, karena lagu yang bernada mars itu benar-benar bisa menyemangati siapa saja yang pernah lahir dan dibesarkan di Banyuwangi. Pada Pebruari 2007, lagu Umbul-Umbul Blambangan meraih juara dua ajang Asian Choir Games di Jakarta International Expo Indonesia. Ini berarti, sebagai pengakuan tingkat internasional terhadap lagu berbahasa Using. Festival itu sendiri, diiukti 200 kelompok dari 13 negara di Asia Fasifik. Nah, apa yang kurang dari lagu “Umbul-Umbul Blambangan” sehingga harus enyah dari tempat kelahirannya sendiri, karena ketidaktahuan dari penguasa saja.

Sebetulnya masalah lagu-lagu Banyuwangi menjadi materi Paduan Suara, bukan saja dilakukan Mahasiswa ITN Malang. Sejumlah perguruan Tinggi seperti Universitas Negeri Jember (Unej), Universitas Kristen Petra Surabaya dan perguruan tinggi lain di Jawa Timur, sering memilih lagu Banyuwangi sebagai materi lagu wajib atau pilihan. Mereka biasaya memilih lagu Luk-Luk Lumbu atau Ugo-Ugo. Sebetulnya ada lagu Banyuwangi lainnya yang bisa untuk membangkitkan semangat kerja dari lare-lare Using, yaitu lagu Makarya: Paman Bibik, Kakang Adik. Ayo riko kabeh podho tandang gawe. Mbangun negera nuju makmure. saiki sing usume wong adol lambe. Ongkang-ongkang aclak-aclakan.Mayo konco, mayo podho tandang gawe. Ngrukono iman, kanggo ganyuh idam-idaman……. Lagu ini meski terkesan pesanan dari penguasan saat itu, tetapi masih bisa layak. Bahkan “kosa kata pembangunan” itu merupakan pesanan dari penguasa. Jika ingin dipopluierkan lagi, bisa minya syair asli dari pengarangnya.

Dalam rangkaian Harjaba, bila Panitia mau mengagendakan lomba paduan suara yang diikuti seluruh pemuda dan pelajar se Banyuwangi. Sebetulnya langkat terbaik, untuk menanamkan cinta daerah terhadap generasi muda. Sekalgus, mereka juga “dipaksa” mengetahui kosa kata yang mungkin sekarang sudah mulai bergeser dengan kosa kata lain. Meski telah dilombakan menyanyi lagu-lagu Banyuwangi, tetapi akan beberda bila dilakukan lomba paduan suara yang pesrtanya massal.

Patut disayangkan, hanya karena adanya persaiangan antar Penguasa dengan pendahulunya, Umbul-umbul Blambangan menjadi korban. Bahkan Budayawan senior Banyuwangi, Hasan Ali yang ditemui di rumahnya, Desa Mangir, Rogojampi, mengaku sangat prihatin atas kepepimpinan Ratna Ani Lestari. Padahal upaya Budayawan membangun kecintaan generasi muda terhadap daerah dan seni budayanya, sudah dilakukan hingga berdarah-darah. Sekarang, saat kesadaran mulai tumbuh dengan berbagai indikatornya, sang Bupati membuat kebijakan yang tidak populis.

Saya juga sempat kaget, meski Radio lokal, terutama Radio Komunitas di Banyuwangi sangat getol menyoal masalah ini. Ternyata media lainnya, nyaris tidak terdengar suaranya. wakil rakyat yang sebetar lagui hambis masa jabatannya, juga tidak ada yang bersuara, Dulu meski jaman Orde Baru yang kepemimpinan sangat tersenyta, namun Wakil Rakyat yang diwakili Faisoli Harun, lantang bersuara jika ada kebijakan Pemkab Banyuwangi yang dianggap tidak menguntungkan perkembangan seni Budaya Banyuwangi. Padahal di Bagian Kersa Pemkab ada Hamzawi Adnan dan di Sie Kebudayaan Diknas ada almahurm Soedibyo Aris yang nota bene masih berteman akbrab dengan Faisoli Harun. Tetapi bila masalah seni budaya, mereka siap berargumentasi di ranah pubklik secara terbuka.


TAGS


-

Author

Follow Me