Posisi Budaya Using dalam “Pawai Pelangi Budaya” Harjaba 2008

21 Dec 2008

Setiap puncak peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba), selalu digelar acara pawai “Pelangi Budaya” sebagai puncak dari sejumlah rangkaian acara. Tidak ketinggalan, pada peringatan Harjaba ke-237 yang jatuh pada hari kamis, 18 Desember 2008 kemarin. Pemkab Banyuwangi di bawah kepempinan Bupati Ratna Ani Lestari, pawai “Pelangi Budaya” juga digelar meski kurang maksimal dan di sana-sini terlihat kurang persiapan, atau terkesan longgar dengan memberikan kesempatan kepada peserta dari luar Kabupaten. Bahkan kesenian dari Kabupaten-Kabupaten lain itu, ternyata di Banyuwangi juga sudah ada. Sehingga kesan tumpang tindih, serta amburadulnya “rundown” acara yang berlangsung di tengah guyuran hujan ini tidak bisa terelakan.

Pelangi budaya, diawali dengan kolaborasi musik dan nyanyian yang dibawakan anak-anak dari Unesa dan seniman Banyuwangi. Lagu Banyuwangi berbahasa Using, bersanding bersama dengan lagu-lagu berbahasa Jawa dan Indonesia. Penampilan ini, seakan ingin menggambarkan kekomplekannya seni budaya dan tradisi yang hidup di Banyuwangi. Masyarakat Using yang diklaim sebagai penduduk asli Banyuwangi, tetap hidup rukun berdampingan dengan suku-suku lain yang tinggal di Banyuwangi. Ini terlihat, saat seniwati pembawakan lagi berbahasa Using yang menceritakan tentang posisi Banyuwangi, sementara saat beersamaan, tiga penyanyi lainnya menyanyi dengan lagu lain bahasa Jawa dan Indonesia.

Mengawali pawai pelangi budaya, ditampilkan Pragmen Sendratari Puputan Bayu yang dibesut seniman dan budayawan besar Banyuwangi. Tercatat ada nama Hasnan Singodimayan (Budayawan) dan Andang Chotib Yusuf (Pengarang Syair lagu-lagu Bahasa Using). Sehingga, pemampilan yang diharapkan menjadi pembuka dan “pengiling-iling” wong Banyuwangi ini tidak diragukan lagi kualitasnya. Perang Puputan Bayu atau perang habis-habisan pada tahun 1771, ditetapkan sebagai puncak terbentuk semangat untuk memeprtahankan harga diri dan wilayah, dari serbuan penjajah Belanda. Bahkan pangeran Jogopati dengan pengikutnya, berbekal keberanian berani menggempur Belanda yang bersenjata canggih. Dalam perang itu, meski Laskar Blambangan banyak yang tewas, tetapi tidak membuat para pengikut Jogpati menyerah kepada Belanda. Sikap wangkot dan setia kepada tokoh panutannya ini, membuat Belanda dan sebelumnya mengaku kawalahan menaklukan wilayah yang awalnya bernama Blambangan ini. Bahkan nama suku Using, juga merujuk sekelompok suku asli yang mendiami Bumi Blambangan, tetapi menolak keras jika diajak kerjasama denga penjajah. Kata “Using” yang berarti tidak, selalau menjadi “pasword” untuk menolak ajakan para penjajah.

Usai penampilan Sendratari Perang Puputan Bayu, dilanjutkan dengan penampilan dari peserta datri Kabupaten lain. Kontingen dari daerah lain ini adalah peserta Festival Kesenian Kawasan Selatan yang digelat Taman Budaya Jawa Timur. Mereka adalah dari perwakilan dari Jember, Lumajang, Pamekasan (Madura), Kediri, Tulungagung, Pacitan dan Ponorogo. Ada juga peserta istimewa, yaitu dari Jembrana (Bali). Peserta ini muncul dalam pawai Pelangui Budaya Banyuwangi, sejak Ratna Ani Lestari yang istrinya Winarsa (Bupati Jembrana) menjadi Bupati Banyuwangi. Tidak diketahui pasti, apa alasan Ratna menampilkan bidaya dari tetangga sendiri ini. Meski tidak mengecewakan penampilan peserta dari Jembrana, namun Angklung Bumbung memang terkesan mirip dengan Angklung Paglak kemiren atau dengan Angklung Caruk.

Penampilan dari peserta tamu ini, cukup menyinta waktu banyak. Apalagi terkesan panitia tidak membatasi durasi masing-masing peserta, saat tampil di depan Panggung kehormatan. Sehingga bisa ditebak, peserta paling belakang terliaht kelelahan menunggu giliran. Bahkan Bupati Ratna, meninggalkan panggung kehormatan, saat poeserta dari Banyuwangi tampil. Yah nasib, susah payah dari seniman semacam Sumitro Hadi dengan Kuntulan Massal, Sahuni dengan Kebo-keboan, dan seniman dari lain dengan Seblang Olehsari dan Seblang Bakungan, tidak sempat direspon Bupati.

Meski cuaca mulai terang, saat penampilan peserta yang dari Banyuwangi. Namun banyak penonton yang sudah pulangt, terutama tamu undangan dan panggung VIP. Mereka tampil apa adanya, tidak lagi “unjuk kebolehan” di depan panggung kehormatin, karena tidak ada lagi yang perlu “dihormati” di panggung itu. Semua peserta tanpil “nggeloyor” menuju garis finis dan Gedung Wanita, padahal mereka sudah mempersiapkan dengan matang.

Tumpang tindik penampilan,. juga terlihat dalam pawai Budaya kali ini. Misalnya penampilan dari kelompok multi etnis yang digawangi Subari Sofyan, ternyata sebagian sudah ditampilkan peserta dari daerah lain. Jika sudah ada kordinasi dengan baik, baik penampil mapun materi yang ditampilkan, tidak perlu mengulang dengan materi yang sama. Selain menjenuhkan, juga tidak efektif. Bahkan begitu tingginya penghirmatan kepada tim tamu, panitia sampai mengesampikan posisi anak-anak. Ada penampil dari Sekolah dasar, harus menunggu giliran cukup lama sesudah peserta tamu. Padahal, dengan alasan stamina anak-anak, seharusnya bisa diprioritaskan.

Kesimpulannya, tradisi dan Budaya Using dalam pawai “Pelangi Budaya” ini kurang greget. Sebelumnya, selain sanggar seni dan kelompok masyrakata yang tampil dalam “Pelangi Budaya” adalah juga penampil yang mewakili kecamatan-kecamatan yang ada di Banyuwangi. Bahkan potensi kecematan ini, bisa lebih natural menggambarkan piotensi seni budaya Banyuwangi daripada kelompok dari daerah lain. Saya tidak anti daerah lain, tetapi mungkin bisa diberikan waktu tersendiri tidak pada saat Puncak Peringatan Harjaba. Seharunya, konsep-konsep pawai Budaya yang dilakukan sebelumnya, bisa dipertahnkan. Jika harus dirumah di sana-sani, dengan alasan agar tidak monoton, buka dengan cara mengebiri potesi daerah sendiri. Bisa saja kecaman A misalnya, pada tahun menampilkan kesenian tertengtu, maka pada tahun ini harus membawakan materi yang lain.


TAGS


-

Author

Follow Me