Banyuwangi Sekarang dan Jalan Berlubang

21 Dec 2008

Saat pulang ke kampung halaman, saya sempat terkejut. Sejumlah kawasan di dalam kota, ternyata banyak jalan berlubang. Kondisi ini sempat saya maklumi, karena saat ini musim hujan, sehingga aspal yang tergerus air itu (mungkin karena banyak campuran) sudah menjadi kelajiman. Namun saat mengetahui jalan mengelupas juga terjadi di jalan-jalan protokol kota, saya baru mulai berpikir kritis. Keterkejutan saya semakin menjadi, saat teman satu angkutan travel menuju Surabaya, ternyata di Kampung halamannya daerah Sumber Sewu, juga rusak parah. Bahkan sopir travel yang melayani rute Banyuwangi-Surabaya dan selaiknya, hafal di mana saja jalan yang rusak.

Jalan yang paling parah kerusakannya adalah kawasan lingkar barat, sekitar Penataban kecamatan Giri. Jalan yangt biasa dileweati kendaraan besar ini, bergelombang dan membayakan pengguna jalan, terutama sepeda motor. Sepanjang Ketapang ke Kota, juga aspalnya mulai “meringis”. Ini mungkin bisa dimaklumi, karena guyuran hujan terus menerus. Namun ternyata, kondisi yang sama juga banyak ditemui di tengah kota. Mulai dari perempatan Cungking hingga ke tengah kota, kalau tidak hati-hati pada tengah malam, akan menemui jalan berlubang meski tidak parah.

Ternyata kondisi tengah kota ini, justru mempertebal keyakinan adanya kerusakan serupa di pedesaan. Di sekitar Gebang, setelah Pelacuran Padang Bulan, jalannya rusak parah. Selain kondisinya sangat gelap pada malam hari, lubang menganga siap menyambut Anda apabila tidak waspada dan hati-hati. Kondisi ini, ternyata sudah lama terjadi. Atau terulang lagi setelah pembenahan. Padahal, jalan ini bisa menjadi alternatif bagi warga sekitarnya. Kondisi serupa, juga terjadi pada jalan dari Parijayah Wetan menuju Sukonantor Srono dan dari Parijatah Kulon menuju Karasangsari-Sempu. Jalan-jalan yang berada di pedesaan ini, belum tahun sampai kapan akan diperbaiki. Wargapu hanya bisa menunggu, karena wakil rakyatpun tidak ada yang member penjelasan kepada konstituennya.

Nah, saat saya kembali ke Surabaya. Pengalaman mendapati jalan rusak semakin bertambah, saat melintas di pertigaan Pekulp-Srono. Kondisi jalan yang rusak tidak begitu panjang, sekitar 300 meter. Namun sangat mengganggu, karena lubangnya sudah berbentuk kubangan atau tempat mandi kerbau. Beberapa tahun lalu, sekali lagi, saya juga mendapati kondisi serupa di tempat yang sama. Apakah memang belum diperbaiki, atau sudah diperbaiki kemudian rusak lagi. Tentu Dinas terkait di Banyuwanglah yang mengetahui, termasuk akan duiperbaiki atau sengaja dibiarkan menunggu adanya korban berjatuhan.

Saat tiba di Srono, ada dua permpuan yang naik Travel dengan tujuan yang sama. Keduanya berasal dari Kebaman dan Sumber Sewu, mereka pun mengawali ceritanya tentang kondisi jalan. Ini setelah sopir menanyakan alamt rumahnya, kemudian dijawab Sumber Sewu. Sanga sopir langsung menyela, jika kawasan penumpang baru ini jalannya sangat para. Komentar ini diiyakan sang penumpang. Bahkan, ia mengaku kesulitan saat keluar dari daerahnya menunju daerah lain atau sebaliknya. Jalan yang awalnya sudah beraspal, tinggal genangan berlumpur dan sudah tidak terlihat lagi aspalnya. Ia yang sekarang tinggal di Jakarta, juga tidak tahu sejak kapan jalan menuju rumahnya itu rusak. Sang sopir kemudian memberi pembanding di kawasan lain, seperti menuju Sumberberas, Muncar. Namun jalan di kawasan ini cepat ditangani, karena wakil Bupati Yusuf Nur Iskandar berasal dari kawasan ini.

Setelah puas membicarakan jalan rusak, dua penumpang perempuan yang duduk di depana bersama sopir, kemudian beralih berbicara politik. Mereka mulai menimbang-nimbang, keikutsertaanya dalam Pemilu, baik legeslatif maupun Presiden. Apalagi Pilkada, dianggap tidak ada gunanya. Saat mereka belum jalan, janji yang ditawatkan kepada rakyat cukup menggiurkan, tetapi setelah jadi, jalan yang mereka lewati berlubangpun tak mau dipedulikan.

Pengalaman saya dua hari di Banyuwangi, tentu belum cukup memotrel jalan rusak di Banyuwangi. Selalin jalan-jalan kelas Propinsi dan Kabupaten, ternyata jalan pedesaan yang sudah di aspal, juga banyak yang rusak parah. Apalagi pembangunan jalan desa ini, hanya berupa bagi-bagi protek antara eksekutif dengan anggota dewan atau sejumlah tokoh LSM.


TAGS


-

Author

Follow Me