Kapolwil Minta Maaf kepada Wartawan

26 Nov 2008

Kedatangan sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Ikatan Jurnalis Televisi (IJTI) Jatim ke Mapolwiltabes Surabaya, benar-benar melegakan semua pihak. Kapolwiltabes Surabaya, Kombes Pol, Bambang Suparno yang menerima sendiri para jurnalis itu, langsung menyampaikan permintaan maaf atas mengatasnamakan anak buahnya yang menghalangi tugas pers di lapangan.

Sebelumnya, Kapolwil meneriman penjelasan dari Ketua IJTI Jatim dan Nico Leopold (Koreponden TransTV) di Surabaya, atas insiden pemukulan kamera yang dilakukan anggota Lantas Polresta Surabaya Timur. “Saya meminta klarifikasi, atas tindakan pemukulan alat kerja saya. Apalagi pemukulan itu, dilakukan hingga dua kali. Kalau memang ada kesalahan, saya meminta Kapolresta Surabaya Timur meminta maaf secara langsung. Namun saya tidak ingin kasus ini diproses hukum, karena saya tahu anggota Bapak yang di lapangan itu juga punya keluarga”, beber Nico.

Namun di luar dugaan, ternyata Kapolwiltabes Surabaya, sudah bertindak lebih jauh dari tuntutan Nico. Sejak peritiwa pemukulan kamera itu, pagi harinya Kapolwil sudah memrintahkan segera diusut. Hasilnya, sebanyak 19 anggota yang terlibat pengaman malam itu harus menjalanmi pemeriksaan. “Saya lihat sendiri dari TV Mas Nico pada pagi harinya. Saya sempat kaget. Wah, ini nggak bener car-cara yang dilakukan anggota saya. Makanya, pengusutan kami lakukan dengan cepat. Saya terima kasih, jika masih ada perasaan simpati Mas Nico tyerhadap anggota saya. Namun proses penegakan disiplin haru dilakukan, maka penerapan sangsi juga akan diterpakan”, kata Bambang menjawab pertanyaan permintaan Nico.

Kapolwil juga menjelaskan, bahwa penertiban lalu lintas di kawasan Darmawangsa itu dilakukan, setelah ada permintaan dari Rektorat Unair. Selain itu, kawasan Darmawangsa malam itu digunakan sebagai jalan alternatif, setelah kawasan Tugu Pahlawan digunakan Finish Gerak jalan Tradisional Mojokerto-Surabaya. “Ini ada suratnya dari Rektorat Unair yang ditandatangi Pemantu rektor II (Purek II), nanti bisa dilihat bersama Wakasat Intelkam”, kata Bambang yang sekalgus mengklarifikasi jika razia yang digelar lantas Polresta Surabaya Timur itu legal. Sebelumnya beredar rumor, jika razia yang dilakukan anggota Lantas itu ilegal, karena tanpa ada perintah dari atasan langsung. Bahkan, sejumlah mahasiswa yang berhasil ditangkap, karena melawan saat digelar razia. Akhirnya dilepas oleh Satrekrim Polresta Surabaya Timur sendiri, karena tidak cukup bukti.

Setelah mendapat penjelasan panjang lebar, anggota IJTI pun dapat menerima klarifikasi yang disampaikan langsung Kapolwiltabes Kombes Pol, Bambang Suparno. Bahkan sejumlah anggota IJTI teheran-heran, karena tuntutan yang diharapkan “korban” ternyata sudah dipenuhi jauh sebelumnya. Bahkan lebih jauh ke proses yang tidak sampai dikenhendaki. “Wah, saya salut kepada Pak Bambang. Ini memang harus ditegakan Polisi, guna menjaga citra yang berusaha diperbaiki. Masak preman luar saja yang dirazia, sementara “preman” di dalam masih bebas beraksi”. ungkap Imam Syafi’i Pemred JTV.

Kapasitas SDM di Polwiltabes Surabaya, memang menjadi atensi Bambang Suparno. Bahkan Kapolwil mengaku melatih sendiri anak buahnya, bagaimana cara merazia senjata tajam. Ini dilakukan saat menjelas eksekusi Kawasan Genting, Surabaya. Awalnya, anak buahnya hanya berhasil merazia 19 senjata tajam. Namun setelah diberi teori dan cara memprkatekan razia di perumahan-permuahan, hasilnya sangat mencengangkan, yaityu 90 lebih senjata tajam. “Jadi saya ke sini, membanhi kemampuan SDM. Pendekatan secara manusiawi kepada siapapun, pasti akan ada hasilnya bila dilakukan secara santun dan benar”, kata Bambang sambil mencontohkan juga cara menghadapi demontran Buruh maupun pendukung pasangan Cagub-Cawagub saat penghitungan suara beberapa waktu lalu.


TAGS


-

Author

Follow Me