MENYOAL “BANYUWANGI ETNO CARNIVAL”

Gagasan Pemkab Banyuwangi menggelar Banyuwangi Etno Carnival (BEC), semacam karnaval seperti di Jember, mulai menuai protes dari sejumlah seniman dan putra daerah yang ada di luar Banyuwangi. Proyek yang dianggarkan Rp. 700 juta itu, rencananya akan menggunakan Event Organizer (EO) Profesional di bidang Karnaval yaitu JFC (Jember Fashion Carnaval) di bawah komando Dynand Fariz. Bahkan JFC akan dikontrak selama 3 tahun sebagai konsultan BEC, atau hingga panitia lokal mampu menyelenggarakan sendiri. Read more »

MELAWAN MITOS MENAK JINGGO

Tokoh Menak Jinggo dalam Serat Damarwulan, memang digambarkan sebagai tokoh antagonis, pemberontak dan berwajah seram sesuai dengan perangainya. Namun bagi warga Banyuwangi, tokoh rekaan itu sudah menjadi mitos. Sebagian ada yang percaya atas kebenarannya, namun sebagian justru ‘memutarbalikan’ cerita rekaan yang dibuat oleh musuh Kerajaan Blambangan itu, karen mereka menangkap ada upaya tersetruktur untuk membunuh karaktaer orang Blambangan dengan menjelek-jelekan pimpinan atau raja Blambangan Menak Jinggo. Read more »

NGUDARI SUWUNG

Alas gung liwang-liwung
Sun randu kembang celung
Adem mbediding longgroke kembang cangkring
Duh lare lancing gage cincing-cincing

Bang wetan sumburat abang branang
Suket-suket hang kemulan embun jelalatan
Munyik ambi matane kethip-kethip
Wis wayahe mapag tekane wayah isuk
Sak kepel angen-angen hang ono
Sun serawataken ring jembare langit padang
Dunyane padang jinglang, pikirane jembar
Murub tekade seneng atine …

Surabaya, 10 Januari 2011

KEPILIS

Bang-bang kulon srengenge surup
Sekehe kalong, lowo, lan codot kuntup-kuntup
Lengsere srengenge semburat abang ring langit
Sopo hang arep ngawase matenge wowohan ring uwit

Kewan hang nggelantung podo rebut bucung
Endi hang mateng wis diambus aju disaut
Peteng sintru wahaye wong-wong podho turu
Ojo seru dirandu riko arep ngunduh jambu

Srengenge melthek gemelar woh-wohan podo tatu
Ono hang bundas mergo ketebluk ring nduwure watu
Ugo ono hang rosak kecokot untu
Moto mendelik arep ngomong sing kewetu

Surabaya, 17 Pebruari 1011

REBONDING SAK DURUNGE SHOLAT JAMAAH

Man Haji Soleman seru senenge, weruh anak lanang hang kuliah nang IAIN Suroboyo mulih. Paran maning ndeleng dadandane, nggaRari Man Aji Soleman rodok gawok. Bengen budal nang Suroboyo rambute brintik, gok iki salin dadi “lurus” (keceng), klimis lan gemilap pisan. Read more »

SASTRA USING AWAL ORDE BARU (4 Habis)

Setelah peristiwam G.30S/PKI meletus, seniman-seniman Daerah Banyuwangi yang terlibat di kancah politik banyak yang ditangkap penguasa Orde Baru, serta syiar lagu-lagu mereka dilarang untuk dkundangkan. Kebijakan Orba ini, sangat berpengaruh terhadap perkembangan Sastra Using. Media satu-satunya, rekaman dan kesenian Daerah justru dilarang. Bahkan pelarangan itu, berdampak terhadap ketakutan warga Banyuwangi, baik mendengarkan apalagi menyanyikan syair lagu-lagu Daerahnya sendiri. Kebanyakan lagu-lagu Daerah Banyuwangi yang popular saat itu, pengarangnya diindikasikan terlibat dalam sayap organisasi PKI (LEKRA) yang kemudian dinyatakan partai terlarang di Indonesia oleh Pemerintah Orde Baru. Read more »

SASTRA USING BANGKIT DARI KETERPURUKAN (3)

Setelah terjepak dalam propaganda politik, para seniman, penyair dan pengarang lagu bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat, mencoba bangkit mengembangkan kesenian dan kesusatraan Using. Pengembangan ini, bukan saja semata-mata membuang yang lama. Namun lebih konstruktif, mengembangkan dasar-dasar lama untuk disesuikan dengan kebutuhan jaman. Upaya ini tidak mudak, karena pandangan orang (termasuk pemerintah saat itu), tentang syair lagu daerah Bahasa Using yang kekiri-kirian masih sulit dihapus. Read more »

SASTRA USING MASA KONFLIK POLITIK (2)

Pada masa menjelang kemerdekaan, Sastra Using tetap seperti jaman sebelumnya. Berkembang secara lisan dan berciri khas kerakyatan, meski secara berangsur-angsur mulai ada perbaikan ke arah sastra modern. Jika sebelumnya Sastra Using hanya disebarkan lewat Ritual Seblang dan Kesenian Gandrung, menjelang kemerdekaan bertambah media penyebaran baru, yaitu Kesenian Angklung. Pada masa ini, pengarang Sastra Using sudah melengkapi dengan Not Balok (partitur). Namun sayang, not balok itu tidak dipublikasikan dan hanya disimpan pengarangnya. Read more »

MENELISIK KEBERADAAN SASTRA USING (1)

Membecirakan Sastra Using, sama halnya dengan membecirakan Bahasa Using sebagai Bahasa tersendiri. Banyak orang yang ragu, apakah ada Sastra Using. Kalau ada, terus apa bentuk karyanya. Dibanding dengan Sastra Daerah lain yang berdekatan, seperti Jawa, Bali dan Madura, memang Sastera Using tidak sekaya ketiga Sastra daerah itu. Namun, bahwa ada tersendiri sastra Using, inilah yang perlu diungkapkan ke permukaan terlebih dahulu. Read more »

Mengenang “Lebaran Brojolan”

“Lebaran Brojolan” adalah lebaran yang jatuh lebih cepat dari perkiraan. Misalnya dalam kalender resmi sudah ditetapkan, lebaran akan jatuh pada hari Minggu. Namun pada saat digelar Rukyatul Hilal (melihat Bulan dengan mata telanjang) hari Jumat petang, ternyata hari sudah dilihat bulan. Maka keputusaannya, puasa harus disudahi dan lebaran hari dilaksanakan pada hari Sabtu pagi. Ummat Islam yang sudah menyiapkan Hari Raya Idul fitri pada hari minggu itu, langsung tergopoh-gopoh menyiapkan aneka masakan untuk esuk harinya secara marathon. Mereka tergopoh-gopoh, karena sekaligus juga menyiapkan untyuk Sholat Ied pada pagi harinya. Ibarat orang hamil, “Lebaran” itu lahir sebelum waktunya. Read more »

Halaman Berikutnya »