• 11

    Jan

    JANGER: DRAMA TRADISIOAN HIDUP DAN BERKEMBANG SENDIRI

    1. Apa yang membuat Anda tertarik mengangkat Janger sebagai bahasan Disertasi?   Seni pertunjukan Janger Banyuwangi adalah salah satu teater rakyat di Indonesia yang mampu bertahan hingga saat ini. Tanpa perjuangan keras para seniman Janger beserta dukungan khalayak penggemarnya, kesenian ini tentu sudah mengalami keruntuhan sebagaimana dialami berbagai kesenian sejenis di tanah air. Kondisi yang menimpa berbagai seni pertunjukan rakyat di Indonesia semacam ini juga sebagai akibat terjadinya persaingan antara seni pertunjukan tradisional dan seni pertunjukan modern dalam memperebutkan pasar, karena pada saat ini seni pertunjukan tidak hanya berhubungan dengan ritual atau estetika semata, melainkan sudah berkaitan erat dengan nilai komersial.Semakin melemahnya daya tahan masyarakat di
  • 25

    Jul

    MENYOAL "BANYUWANGI ETNO CARNIVAL"

    Gagasan Pemkab Banyuwangi menggelar Banyuwangi Etno Carnival (BEC), semacam karnaval seperti di Jember, mulai menuai protes dari sejumlah seniman dan putra daerah yang ada di luar Banyuwangi. Proyek yang dianggarkan Rp. 700 juta itu, rencananya akan menggunakan Event Organizer (EO) Profesional di bidang Karnaval yaitu JFC (Jember Fashion Carnaval) di bawah komando Dynand Fariz. Bahkan JFC akan dikontrak selama 3 tahun sebagai konsultan BEC, atau hingga panitia lokal mampu menyelenggarakan sendiri. Konsep BEC tidak jauh berbeda dengan JFC, karena konseptornya memang orang yang sama. Namun penggagas dan Pemkab Banyuwangi bertekad, akan menggali potensi seni-budaya Banyuwangi dalam BEC. Jaminannya, JFC hanya sebagai konsultan untuk membuat karnaval yang menarik perhatian dan menyedot turis
  • 14

    Mar

    MELAWAN MITOS MENAK JINGGO

    Tokoh Menak Jinggo dalam Serat Damarwulan, memang digambarkan sebagai tokoh antagonis, pemberontak dan berwajah seram sesuai dengan perangainya. Namun bagi warga Banyuwangi, tokoh rekaan itu sudah menjadi mitos. Sebagian ada yang percaya atas kebenarannya, namun sebagian justru ‘memutarbalikan’ cerita rekaan yang dibuat oleh musuh Kerajaan Blambangan itu, karen mereka menangkap ada upaya tersetruktur untuk membunuh karaktaer orang Blambangan dengan menjelek-jelekan pimpinan atau raja Blambangan Menak Jinggo. Pengertian mitos atau mite menurut JS Badudu (1986:45) adalah dengeng atau cerita tentang dewa-dewa atau pahlawan-pahlawan yang dipuja-puja. Keberadaan tokoh mitos, seperti diuraikan pakar Folklor, James Danandjaja, meski sebagai pribadi pahlawan-pahlawan mitos itu tokoh
  • 20

    Feb

    NGUDARI SUWUNG

    Alas gung liwang-liwung Sun randu kembang celung Adem mbediding longgroke kembang cangkring Duh lare lancing gage cincing-cincing Bang wetan sumburat abang branang Suket-suket hang kemulan embun jelalatan Munyik ambi matane kethip-kethip Wis wayahe mapag tekane wayah isuk Sak kepel angen-angen hang ono Sun serawataken ring jembare langit padang Dunyane padang jinglang, pikirane jembar Murub tekade seneng atine … Surabaya, 10 Januari 2011
  • 20

    Feb

    KEPILIS

    Bang-bang kulon srengenge surup Sekehe kalong, lowo, lan codot kuntup-kuntup Lengsere srengenge semburat abang ring langit Sopo hang arep ngawase matenge wowohan ring uwit Kewan hang nggelantung podo rebut bucung Endi hang mateng wis diambus aju disaut Peteng sintru wahaye wong-wong podho turu Ojo seru dirandu riko arep ngunduh jambu Srengenge melthek gemelar woh-wohan podo tatu Ono hang bundas mergo ketebluk ring nduwure watu Ugo ono hang rosak kecokot untu Moto mendelik arep ngomong sing kewetu Surabaya, 17 Pebruari 1011
  • 20

    Feb

    REBONDING SAK DURUNGE SHOLAT JAMAAH

    Man Haji Soleman seru senenge, weruh anak lanang hang kuliah nang IAIN Suroboyo mulih. Paran maning ndeleng dadandane, nggaRari Man Aji Soleman rodok gawok. Bengen budal nang Suroboyo rambute brintik, gok iki salin dadi lurus (keceng), klimis lan gemilap pisan. Kari berahi rambut siro saiki Lik? takone Man Aji nang anak lanange hang aran Sonhaji. Nggih Pak, kersane katon rapi. Ketang kulo diwadani kalih konco, terose rambut kulo jibros koyo gundoruwo, sambate Sonhaji nang Bapake hang during ilang gawoke. Isun setuju Lik, kadung koyo saiki. Masalahe iku, bengen kan britik kok biso dadi koyo gedigi iki diapakene? dedese Man Aji Soleman nang Sohaji. Niki namine direbonding Pak, jare Sonhaji. Paran maning iku Lik? Siro iki serto nang Kutho omongane aneh-aneh. Sak weruh isun, kadung rambut k
  • 5

    Feb

    SASTRA USING AWAL ORDE BARU (4 Habis)

    Setelah peristiwam G.30S/PKI meletus, seniman-seniman Daerah Banyuwangi yang terlibat di kancah politik banyak yang ditangkap penguasa Orde Baru, serta syiar lagu-lagu mereka dilarang untuk dkundangkan. Kebijakan Orba ini, sangat berpengaruh terhadap perkembangan Sastra Using. Media satu-satunya, rekaman dan kesenian Daerah justru dilarang. Bahkan pelarangan itu, berdampak terhadap ketakutan warga Banyuwangi, baik mendengarkan apalagi menyanyikan syair lagu-lagu Daerahnya sendiri. Kebanyakan lagu-lagu Daerah Banyuwangi yang popular saat itu, pengarangnya diindikasikan terlibat dalam sayap organisasi PKI (LEKRA) yang kemudian dinyatakan partai terlarang di Indonesia oleh Pemerintah Orde Baru. Menjelang akhir tahun 1969, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mulai intesif melakukan pembinaan. Ap
  • 29

    Jan

    SASTRA USING BANGKIT DARI KETERPURUKAN (3)

    Setelah terjepak dalam propaganda politik, para seniman, penyair dan pengarang lagu bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat, mencoba bangkit mengembangkan kesenian dan kesusatraan Using. Pengembangan ini, bukan saja semata-mata membuang yang lama. Namun lebih konstruktif, mengembangkan dasar-dasar lama untuk disesuikan dengan kebutuhan jaman. Upaya ini tidak mudak, karena pandangan orang (termasuk pemerintah saat itu), tentang syair lagu daerah Bahasa Using yang kekiri-kirian masih sulit dihapus. Dampak kepopuleran lagu Genjer-Genjer memang masih terasa sepuluh tahun kemuudian. Bahkan setelah Genjer-genjer masuk dapur rekaman yang dibawan artis serba bisa Bing Selamet pada tahun 1950-an, tiba-tiba lagu ini sangat terkenal dan populer di Indonesia. Kedanti Bing Slamet bukan orang
  • 24

    Jan

    SASTRA USING MASA KONFLIK POLITIK (2)

    Pada masa menjelang kemerdekaan, Sastra Using tetap seperti jaman sebelumnya. Berkembang secara lisan dan berciri khas kerakyatan, meski secara berangsur-angsur mulai ada perbaikan ke arah sastra modern. Jika sebelumnya Sastra Using hanya disebarkan lewat Ritual Seblang dan Kesenian Gandrung, menjelang kemerdekaan bertambah media penyebaran baru, yaitu Kesenian Angklung. Pada masa ini, pengarang Sastra Using sudah melengkapi dengan Not Balok (partitur). Namun sayang, not balok itu tidak dipublikasikan dan hanya disimpan pengarangnya. Dalam setiap pementasan Kesenian Angklung, selalu membawakan lagu hasil kreasi baru. Tidak jarang, juga masih membawakan syair lagu yang sebelumnmya dipopulerkan melalui Kesenian Gandrung. Dari segi isi bisa dibedakan, syair lagu yang dibawakan Kesenian Gandr
  • 20

    Jan

    MENELISIK KEBERADAAN SASTRA USING (1)

    Membecirakan Sastra Using, sama halnya dengan membecirakan Bahasa Using sebagai Bahasa tersendiri. Banyak orang yang ragu, apakah ada Sastra Using. Kalau ada, terus apa bentuk karyanya. Dibanding dengan Sastra Daerah lain yang berdekatan, seperti Jawa, Bali dan Madura, memang Sastera Using tidak sekaya ketiga Sastra daerah itu. Namun, bahwa ada tersendiri sastra Using, inilah yang perlu diungkapkan ke permukaan terlebih dahulu. Sebagai kawasan yang berkembang di luar Keraton, tradisi Kesusastraan di Banyuwangi banyak menggunakan media lisan. Sehingga, agak kesulitan dan perlu kerja keras untuk merekonstruksi kehidupan Sastra Using pada masa silam melalui bukti-bukti tertulis. Namun dalam Ensiklopedi Indonesia (1987: 399) disebutkan: Sampai abag ke-18 masih ada penganut Agama Hindu dan ba
- Next

Author

Follow Me